Malam dibilas gerimis. Bahagia melihat Pangeran Sukowati bahagia. Walau celoteh milik Permaisuri atau ibundanya Pangeran Sukowati kadang membuyarkan rasa yang ada. Nana langsung kabur dari pandangan sang Pangeran Sukowati. Tak tega melihat si Permaisuri yang tak kenal tempat memarahi Pangerannya. Nana memahaminya. Bahwa Pangeran Sukowati sudah dewasa. Walau Nana lebih dewasa dari si Pangeran. Nana memperjelas rasa yang ada dalam hati. Mencoba melerai rasa yang bermunculan tanpa dikomando.
”Kok bisa ya aku jatuh cinta ama kamu?” gerutu Nana dalam hati.
Gila rasanya kalau saja aku beneran jatuh cinta sama kamu, gelisah Nana.
”Semua karena sikapmu berlebih untukku.” Nana bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.
Sedih jika menemukan tampang kerasmu berubah kuyu. Setelah aku tahu dirimu sakit. Hatiku gundah. Ingin rasanya aku ada di sampingmu. Segera mengirimkan pesan singkat.
Get well soon J
Hmmm...
Hanya bisa berdoa agar kamu cepat sembuh. Aku tahu, ada yang aneh pada setiap tingkah aku dan kamu. Nana berbicara pada hati kecilnya.
”Mbak, sepertinya mas Man naksir sampeyan deh!” celetuk Isti salah satu sahabat Nana..
”Hahaha... apa ya? Walau aku punya perasaan yang sama. Aku ra wani karo mboke.” Nana membalasnya dengan berkelakar. Padahal Nana berani bersumpah atas nama Tuhan. Itu jawabannya yang paling jujur.
Cinta tak kenal usia, pekerjaan ataupun pangkat itu nggak salah.
Status Nana yang single mom membuat Nana mati kutu. Tak berani berkhayal tentang diri mas Man terlalu jauh. Mas Man itu belum pernah menikah. Sedangkan aku sudah punya sepasang buah hati. Walaupun hati kami berkata ya. Aku rasa pihak orang tuanya tak kan merestuinya.
Telepon genggam Nana bergetar. Pesan singkat dari Isti untuk Nana,
Dimanakah dirimu berada mbakyu? Tidakkah sampeyan berhasrat menengok Metro? Setelah diguyur hujan. Bumi Metro kembali disambangi sinar mentari yang membuat Pangeran Sukowati datang ketika aku hendak merayapi mimpi dan menanyakan kehadiranmu.
Nana yang kerap baru menyapa mimpi setelah sholat subuh merasa sulit kembali melihat dunia. Masih disengat rasa kantuk yang bisanya belum ada penawarnya. Isti selalu membangunkan Nana dengan mengirimkan pesan singkat.
Hmmm... andai dia bisa berani menguras rasa yang dia punya untukku L kebaikannya takut membuat aku lupa diri tentang siapa aku. Permaisuri Sukowati pasti tak kan pernah merestui aku yang hanya single mom berdampingandengan putra sulung tercintanya. Oalah... seperti disabet sapu lidi saat mimpi. Aku nggak berani jeng.
Pesan singkat hanyalah sebuah fitur. Tapi inilah sekilas sms yang Nana sering kirimkan pada Isti sahabatnya. Yang keberadaannya tepat di sebelah warung ”Bakso Sari Rasa Sukowati” yang sering Nana sambangi. Isti, sahabat Nana inilah yang telah mengganti nama Mas Man menjadi Pangeran Sukowati. Tak pernah ada yang singkat isi pesan Nana untuk sahabatnya ini atau sebaliknya. Sms yang menyenangkan buat Nana.
Sepanjang ruko Metro Nana berjalan sambil membaca buku. Sebuah novel biografi nabi Muhammad SAW ’Lelaki Penggenggan Hujan’ karya Tasaro GK ada dalam genggamannya. Masih berada dihalaman 113. Nana memutuskan membacanya sambil berjalan. Dan itu hal biasa buat Nana. Membaca adalah hobi. Dan Nana sendiri sedang menekuni dunia menulis.
”Halo mbakyu! Piye perjalanannya kali ini?” mas Man menyapa kedatangan Nana. Dengan tas ransel hijau army dan sepatu keds plus kerudung gayanya yang tomboy. Nana membalasnya dengan memasang senyum terbaiknya.
”Baik. Kalo kangen mbok ya ngomong mas!” ledek Nana saat itu juga. Tapi, tanpa ada ibunya yang super bawel itu. Deretan gigi mas Man terlihat saat dia nyengir kuda. Dan tertawa lepas. Nana suka tawanya.
Setiap hari dan setiap saat hanya itu yang Nana lewati bersama Pangeran Sukowati yang saat ini menyita waktu segenap jiwa Nana yang kosong. Tertawa bersamanya membuat hati Nana seperti punya kekuatan ekstra. Wujud rasanya yang berlebih untuk mas Man pun Nana menyalurkannya lewat tulisan. Nana yang tadinya tidak berniat menulis antologi kuliner. Akhirnya ikut serta dengan menampilkan kuliner ala ”Bakso Sari Rasa Sukowati”. Cinta membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Aku akan membiasakan diri menulis tanpa hadirnya dirimu. Hadir tidaknya dirimu semakin sulit aku menempuh halaman berikutnya. Aku harus belajar!!! Walau dirimu absen panjang. Aku yang memang terbiasa sendiri. Harus sendiri. Tanpa sahabat mungkin L
Aku kehilangan sesuatu...
Sesuatu tentangmu kekasih imajinasiku. Halaman kembali seperti kertas roti yang dijajakan keliling dengan pikulan. Seperti aku memikul halamanku yang susah aku lewatkan tanpa sosokmu.
Nana mengisi buku hariannya dengan tidak biasanya. Penuh kata yang berbaur dengan isi hati tentang rasa yang Nana pikul. Ingin sekali Nana memberi tahu rasa yang Nana punya untuk si Pangeran Sukowati. Namun, sebagai perempuan timur yang masih menjunjung adat Jawa. Nana hanya bisa menunggu keajaiban yang Penguasa Jagad turunkan untuknya.
Hingga akhirnya Nana menyerah pada suatu keadaan yang terus menderanya. Mematikan rasanya kepada Pangeran Sukowati adalah yang terbaik buat Nana. Meskipun dalam hati Nana tertanam keyakinan bahwa Pangeran Sukowati mempunyai asa yang sama terhadapnya. Nana tidak ingin persahabatannya rusak dengan rasa yang tak kunjung mereda di kegalauan hatinya.
Tak pernah aku temukan lagi engkau di jiwa ini. Telah bosankah rasa berpijak di ragaku? Jawabnya hanya setetes air mata. Terdiam mencari sepatah kata yang tak bertuan. Ingin aku terus berada di sisimu. Namun,rasa tak mengijinkan raga ini. Meski rasa ini terus menghujam jiwa dari ketenangan hati.
Ingin aku segera pergi dari hidupmu. Membiarkan jiwaku kering dari rasa. Aku tersiksa dengan rasaku sendiri. Terkoyak bathin tak bertuan. Mencintalah dari jauh, melayarkan rindu yang tak pernah kunjung berlabuh. Sayangi dirimu tanpa membuatmu merasa terganggu. Panjatkan doa untukmu. Walau kamu tak pernah tahu aku memohonkan bahagia untukmu.
Ada segelintir rasa rindu yang menyelinap di hati Nana. Tulisan Nana penuh dengan rasa yang dia titipkan pada mas Man si Pangeran Sukowatinya.
Suasana di sepanjang ruko Metro lebih nyaman ketika matahari mulai meninggalkan tugasnya. Rasa berbalik arah. Seperti kemudi hilang kendali. Nana menepikan hatinya. Seutas rasa yang Nana miliki siap disimpan dalam peti mati. Yang Nana sendiri tak ingin lagi menyentuhnya.
”Aku mau ke Pekan Baru mas!” nada lirih diperdengarkan Nana ketika bercengkrama di pelataran warung ”Bakso Sari Rasa Sukowati”.
”Ke tempat siapa mbakyu?” diliputi rasa penasaran mas Man.
”Hampir satu bulan terakhir ini ada telepon yang nyasar ke ponselku. Nomernya mirip sekali dengan milikku. Aku ingin menikah lagi mas. Siapa pun dia aku tak pernah peduli. Aku ingin mengembalikan kodratku sebagai istri yang solehah. Rasanya aku tak mungkin menunggu seseorang yang tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya kepadaku.” sindir Nana yang seperti kalimat tikaman untuk mas Man.
Suasana Metro seakan kembali gersang. Keheningan meliputi percakapan dua insan yang berusaha mengungkapkan isi hatinya. Namun hanya bisa diungkapkan dengan bahasa tubuh keduanya. Tatap mata Pangeran Sukowati menatapnya lebih tajam dari biasanya. Nana hanya bisa menghela nafasnya yang terasa sesak.
Bicaralah mas...
Agar aku tak perlu menyebrangi lautan untuk menjadi istri solehah milik orang lain. Aku mau menjadi bagian dari hidupmu. Menerangi hati dan menjadikan dirimu sebagai lentera hatiku.
Nana masih menunggu sampai waktunya tiba. Waktu yang Nana akan tentukan Juni mendatang. Nana terdiam dalam lamunan panjangnya bersama Pangeran Sukowati. Membiarkan sang waktu menjawab rasa yang terlena di area gundah gulananya.