Saat nulis ini air mataku ga lagi turun. Padahal masih gondok, sebel ama kelakuan orang rumah. Air matanya juga udah bosen kali ya?
Pagi yang menyisakan sakit. Ga hanya sakit di kepala. Obat yang paling keren di iklan pun ga mampu menyembuhkan kepalaku yang keras dan otakku yang ud beku. Mending es kali ya kalo beku masih bisa cair :'( Entah ini pengusiran yang ke berapa? Aku aja sampai lupa. Mereka terbiasa ko mengusir buah hati mereka karena sepele.
Pagi tadi aku mencuci seperti biasa. Aku baru nyuci kalo pakaian dalamku sudah menipis. Bukan jorok ya temans. Bapakku pelit bin merkedit. Apapun di perhitungkan. Termasuk masalah pemakaian listrik.
" Bulan depan bantu bayar listrik loh!" Nada galaknya weis tak kepalang tanggung.
" Kenapa sih tiap nyuci selalu ditagih listrik?" Aku jawab sesabar mungkin.
" Dasar anak ga tau diri! Bangs*t kamu! Maunya pakai listrik lalu ga mau bayar!" Matanya menyalak seperti serigala menerkam anaknya.
" Hmmm.... Lha baru tau ya kalo aku anaknya bangs*t? Anaknya siapa dulu kalo bukan anaknya si bangs*at." Jawabku lebih pedas.
Jujur. Aku sepertinya ga kuat menjalani hidup ini. Tapi, demi buah hatiku aku mencoba bertahan di rumah orangtuaku. Lelah. Amat sangat melelahkan hidup seperti ini. Aku takut. Bukan takut kepada orangtuaku. Tapi, aku takut kepada Allah. Aku takut Allah marah melihatku durhaka kepada orangtuaku.
Aku mandi. Aku mengguyur kepalaku agar menyejukkan isi di dalamnya. Penatku menyebabkan aku di kamar mandi sampai rambut yang aku cuci mengering. Putus asa rasanya ga. Tapi... Beragam tapi, di bongkahan kepalaku. Aku yakin bibirku membiru berada di kamar mandi.
Ampuni aku ya Rabb :'(
Inilah yang terjadi kisah pagi di rumahku. Yang akhirnya membuat aku harus meninggalkan rumah esok hari. Aku menangis bukan karena bapakku mengusir aku. Aku hanya menyesalkan bapakku tidak pernah berubah. Aku terpaku sepi dalam kamar sempitku. Marah. Bosan yang jelas. Karakter seperti inilah yang wara wiri dalam kehidupan sehari - hariku.
Marahku hari ini rasanya benar teramat komplit. Kaya jamu komplit deh!
Hmm....
Aku jadi berpikir ulang jika aku harus menikah lagi. Mungkin suamiku meninggalkan aku karena tingkah pola orangtuaku kali ya? Karma kah?
Mataku masih sembab. Untung warnet langgananku masih ada tempat kosong untuk aku mengeluarkan unek - unek yang jijik banget rasanya ada di otak ini.
Sholatku sampai berantakan :'( Dalam satu rakaat aku sampai baca Al - Fatihaah 5 kali. Ya Allah....
Buat temans...
I'm so sorry ya kalo aku absen. Malu rasanya yang kubagi hanya kesedihan kepada kalian. Aku berjanji. Ini terakhir kali note sedihku. Semoga aku kembali dalam warna yang lebih cerah dan bisa berada di antara kalian dengan senyum mengembang.
Trims ya selalu hadir dalam kisahku. Aku pun muak. Makasih semuanya. Doa'kan aku. Miss u all my friends....
Pagi yang menyisakan sakit. Ga hanya sakit di kepala. Obat yang paling keren di iklan pun ga mampu menyembuhkan kepalaku yang keras dan otakku yang ud beku. Mending es kali ya kalo beku masih bisa cair :'( Entah ini pengusiran yang ke berapa? Aku aja sampai lupa. Mereka terbiasa ko mengusir buah hati mereka karena sepele.
Pagi tadi aku mencuci seperti biasa. Aku baru nyuci kalo pakaian dalamku sudah menipis. Bukan jorok ya temans. Bapakku pelit bin merkedit. Apapun di perhitungkan. Termasuk masalah pemakaian listrik.
" Bulan depan bantu bayar listrik loh!" Nada galaknya weis tak kepalang tanggung.
" Kenapa sih tiap nyuci selalu ditagih listrik?" Aku jawab sesabar mungkin.
" Dasar anak ga tau diri! Bangs*t kamu! Maunya pakai listrik lalu ga mau bayar!" Matanya menyalak seperti serigala menerkam anaknya.
" Hmmm.... Lha baru tau ya kalo aku anaknya bangs*t? Anaknya siapa dulu kalo bukan anaknya si bangs*at." Jawabku lebih pedas.
Jujur. Aku sepertinya ga kuat menjalani hidup ini. Tapi, demi buah hatiku aku mencoba bertahan di rumah orangtuaku. Lelah. Amat sangat melelahkan hidup seperti ini. Aku takut. Bukan takut kepada orangtuaku. Tapi, aku takut kepada Allah. Aku takut Allah marah melihatku durhaka kepada orangtuaku.
Aku mandi. Aku mengguyur kepalaku agar menyejukkan isi di dalamnya. Penatku menyebabkan aku di kamar mandi sampai rambut yang aku cuci mengering. Putus asa rasanya ga. Tapi... Beragam tapi, di bongkahan kepalaku. Aku yakin bibirku membiru berada di kamar mandi.
Ampuni aku ya Rabb :'(
Inilah yang terjadi kisah pagi di rumahku. Yang akhirnya membuat aku harus meninggalkan rumah esok hari. Aku menangis bukan karena bapakku mengusir aku. Aku hanya menyesalkan bapakku tidak pernah berubah. Aku terpaku sepi dalam kamar sempitku. Marah. Bosan yang jelas. Karakter seperti inilah yang wara wiri dalam kehidupan sehari - hariku.
Marahku hari ini rasanya benar teramat komplit. Kaya jamu komplit deh!
Hmm....
Aku jadi berpikir ulang jika aku harus menikah lagi. Mungkin suamiku meninggalkan aku karena tingkah pola orangtuaku kali ya? Karma kah?
Mataku masih sembab. Untung warnet langgananku masih ada tempat kosong untuk aku mengeluarkan unek - unek yang jijik banget rasanya ada di otak ini.
Sholatku sampai berantakan :'( Dalam satu rakaat aku sampai baca Al - Fatihaah 5 kali. Ya Allah....
Buat temans...
I'm so sorry ya kalo aku absen. Malu rasanya yang kubagi hanya kesedihan kepada kalian. Aku berjanji. Ini terakhir kali note sedihku. Semoga aku kembali dalam warna yang lebih cerah dan bisa berada di antara kalian dengan senyum mengembang.
Trims ya selalu hadir dalam kisahku. Aku pun muak. Makasih semuanya. Doa'kan aku. Miss u all my friends....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar