Minggu, 25 Maret 2018

Memutus Rantai Kemiskinan Dengan Pendidikan

Satu minggu telah berlalu, tapi di hati masih saja terkenang tas cantik hasil karya Siswa Wirausaha PKBM Ginus Itaco. Ya... pada hari Minggu, tepatnya tanggal 18 Maret 2018, Dear Blogger Net menyelenggarakan event perdananya, program DBN Charity Visit.

 

Charity yang diselenggarakan Dear Blogger Net untuk memberdayakan blogger melalui konten yang bermanfaat agar mengimbangi banyaknya berita hoax yang bertebaran di media sosial. Menurut mbak Haya Aliya Zaki, selaku salah satu founder Dear Blogger Net. "Konten positif membuat kita menjadi optimistis dan bersemangat untuk melakukan hal yang positif pula."
   
Saya sebagai blogger pemula sangat menyambut baik. Apalagi, sering kali saya terhasut berita hoax hasil share teman di media sosial. Dan tak jarang pula ikut share konten hoax tersebut. Duh... jadi malu hati mendengarkan penjelasan mbak Haya.

DBN Charity Visit juga mendapat dukungan dari loh dari C2live, Content Collision. C2live memiliki fasilitas yang mumpuni di bidang perbloggeran.



 

Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan di event blogger perdana saya. Saya baru tahu bahwa Bekasi memiliki sekolah gratis berfasilitas cukup lengkap. PKBM Ginus Itaco yang berada di Jalan Lapangan Tengah Bekasi Tengah no.3, kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. Selama enam tahun tinggal di Bantar Gebang, Bekasi, saya masih buta akan wilayah Bekasi dan sekitarnya.  

Di event ini, saya jadi paham, ternyata masih banyak anak-anak putus sekolah dikarenakan masalah ekonomi. Padahal wajib belajar 12 tahun telah dicanangkan pemerintah. Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh pemerintah pada tingkat global. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengupayakan wajib belajar 12 tahun. Tapi, kenyataannya masih banyak anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat mengenyam pendidikannya dengan layak.

"Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, termasuk anak dari keluarga pra sejahtera. Berbekal pendidikan, mereka diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan keluaarga dan orang-orang di sekitarnya." Susi Sukaesih.
   

Susi Sukaesih mendirikan pendidikan non formal SMA Itaco di tahun 2012, sekarang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ginus Itaco. Banyak kisah dari siswa-siswanya yang menjadi latar belakang berdirinya sekolah ini.

Fakta masih banyaknya siswa putus sekolah, terutama di Bekasi. PKBM Ginus Itaco dengan ijin no : 420.10/6236/Dik 33/Pk.020 membekali siswa-siswanya sesuai kurikulum yang berlaku plus ketrampilan khusus seperti programming, design grafis, menjahit, komputer MS Office, broadcasting dan juga kewirausahaan.

   

Seperti diketahui, program wajib belajar adalah salah satu program pemerintah. Namun, masih sebatas retorika. Adanya PKBM Ginus Itaco dengan biaya 100% gratis sangat membantu keluarga prasejahtera. Dimana kebanyakan para orangtua dari siswa-siswanya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga, tukang ojek, supir angkot, buruh serabutan dan pekerja kasar lainnya.

Dibantu oleh donatur, orangtua asuh dan CSR perusahaan. PKBM Ginus Itaco juga dibantu beberapa pihak antara lain, Bank Mandiri, Laznazs BSM, Brother Indonesia, Grab dan 0LX. Dengan 20 siswa di tahun pertamanya, PKBM Ginus Itaco terus berkembang dengan prestasi dan kewirausahaannya. Berpindah-pindah tempat tidak menyurutkan semangat seorang Susi Sukaesih yang ingin sekali membantu anak-anak putus sekolah dari keluarga pra sejahtera untuk kembali ke bangku sekolah dan mengenyam pendidikan yang layak.

Lima kali berpindah-pindah tempat bukanlah perkara mudah. Namun, di tangan dinginnya, Susi Sukaesih, PKBM Ginus Itaco telah berhasil mendidik 40 siswanya.

Di bidang ketrampilan dan wirausahanya PKBM Ginus Itaco melalui wadah Siswa Wirausaha mengeluarkan beberapa produk:

1. Itaco (tas dan aksesoris premium).
2. Hade Bag (tas dan aksesoris harga lebih ekonomis.
3. Hade Kids (batik anak)
    - Hade Prelove : aksesoris berbahan pakaian bekas layak pakai
    - Famsignature : kaos katun combed, seperti kaos anak dan kaos ibu menyusui.

Hasil karya anak-anak wirausaha sungguh membuat saya berdecak kagum. Apalagi melihat tas-tas bercorak etnik yang membuat saya jatuh hati. Bukan hanya modelnya saja. Jahitannya yang rapi dan secara fisik yang awet dan tahan lama. 



 


Yakin deh nggak akan kecewa membeli hasil karya Siswa Wirausaha di PKBM Ginus Itaco. Foto dan aslinya plek ketiplek. Apalagi ini hasil karya anak negeri. Saya aja udah naksir dan yakin mau beli.

Nah, yang berminat bisa datang langsung ke alamat PKBM Ginus Itaco atau bisa memesan secara online. 


9 komentar:

  1. Salut ini sama ITACO, mengutamakan kualitas, wajr kalau harganya bersaing dengan tas-tas branded KW, tapi kualitas gak bisa bohong :)

    terima kasih sudah share

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mas Bisot :) aku suka jahitan tasnya. Rapi...

      Hapus
  2. Melihat semangat para siswa di sana jadi terharu dan ingin berbuat sesuatu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul :) aku pengen jualan online tas-tas wirausaha itu.

      Hapus
  3. Semua karyanya berkualitas, keren banget, yuk kita promosikan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup :) sebagai promosi pertamanya, aku mau beli tas yang aku taksir kemarin. Biar promosinya juga gampang.

      Hapus
  4. Terima kasih sudah hadir dan support event #DBNCharityVisit, ya. :)

    BalasHapus
  5. Sama-sama mbak-mbakku yang cantiks :)

    BalasHapus
  6. ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
    dapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
    segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q

    BalasHapus

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...