Setiap insan memiliki cita-cita. Entah cita-cita yang hanya sekedar mimpi. Setiap anak biasanya memiliki begitu banyak cita-cita. Seperti kedua anak saya. Yang paling banyak cita-citanya adalah si bungsu Namiera.
Cita-cita pertama Namiera adalah menjadi dokter. Sebagai orang tua kami hanya bisa mengaminkan saja. Lalu cita-citanya berubah ingin menjadi polisi. Saya dan suami hanya bisa berdoa semoga cita-cita si bungsu terwujud. Tapi, alangkah kagetnya ketika cita-citanya berubah menjadi penyanyi dangdut. Kali ini kami sekeluarga mesem saja tak memberi tanggapan. Dan membuat Namiera cemberut.
Impian Pasha dari kecil memang tak pernah berubah. Ingin sekali menjadi seorang guru sampai sekarang duduk di kelas 5. Saya dan suami bangga dengannya yang selalu berprestasi di sekolah.
Pada suatu hari, Pasha bilang, "Mi, sekolahku ada di Youtube loh! SDN Padurenan 5 Kita Bisa."
Dengan durasi 5.37 menit saya jadi mengerti apa cita-cita Pasha saat ini.
"Cita-cita saya ingin menjadi ahli sejarah. Karena ingin memberitahu semua orang tentang sejarah Indonesia dan negara-negara lainnya."
Sungguh hati ini sangat terharu. Tak terasa buliran air mata mengalir. Apalagi jika mengingat masa lalu. Sejak dalam kandungan empat bulan Pasha tak memiliki sosok ayah dalam hidupnya. Sampai akhirnya saya kembali menikah dengan pertimbangan masa depannya.
Alhamdulillah... Sosok pengganti ayahnya. Memiliki rasa sayang dan tanggung jawab yang besar untuk menjadikan Pasha anak-anak pada umumnya. Yang memiliki rasa kasih sayang lengkap dari kedua orang tua.
Kami bukanlah sosok orang tua yang sempurna. Dari sisi ekonomi kami masih sering kekurangan. Namun tanggung jawab kami untuk mendidik anak-anak kami ada di pundak kami.
Bekerja di pabrik gula merah dengan upah borongan kami tekuni setiap hari. Kami berusaha memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan anak-anak kami. Tak peduli seberapa lelahnya kami.
Di kala pabrik kami tak ada aktifitas. Saya berjualan brownies rumahan. Dan suami menjadi kuli panggul gula pasir. Satu kali panggul beban dibahunya ada 50 kg gula pasir. Hanya dengan upah sekitar 15 sampai 17 ribu rupiah satu truk besar atau tronton.
Tak ada istilah menyerah atau mengeluh untuk mewujudkan impian anak-anak kami. Nilai dan prestasi anak-anak kami di sekolah seolah sebagai penyejuk saat kami sedang mandi peluh mengais pundi-pundi rupiah.
Tetap semangat 😊
Tulisan ini adalah tugas menulis di Kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam.

Tetap semnagat Mbkyu sayang, hidup ini adalah perjuangan. Happy Mom, Mom Kece deh!
BalasHapusTerima kasih suntikan semangatnya 😘
Hapus