Ketika hati bicara. Mata syarat mengajukan permohonan tentang isi yang berada di dalamnya. Singasanamu terlalu tinggi untuk aku bernaung dalam jiwamu.
Ingin trus mengudara di hatimu. Berpijak di dadamu. Nelangsa melewati batas waktu yang akan memisahkan dua insan. Mencari tempat persinggahan hati yang lara. Ku titipkan penat hatiku di antara pesan yang tertinggal. Meraih asa di himpitan rasa yang gamang.
Tak bisa membaca kosa kata yang ku terima di antara rasa yang mendera. Lebih baik kembali ke garba sang bunda. Jika tak mengerti arah laranya hati yang terhempas. Berpacu dengan kecepatan. Menggilas waktu kepenatan. Berlari mengejar impian melalui kepakan sayap yang tersayat.
Berkutat dengan waktu. Berjuang untuk kehidupan. Berlari dari bayangan semu. Menghampiri yang terjadi. Membunuh rasa yang ada. Jangan kau hadir saat ini. Jiwaku hambar dari rasa. Imajinasi yang terisolasi luka. Gerimis pagi mengundang rasa tak terbilang.
Langkah menapaki pagi yang menyilangkan rasa yang ada. Mengusir rasa yang membuncah. Rasa segera lari tak terperi. Rasa sibuk terus berlari tanpa tahu dimana dia harus singgah. Berharap rasa tak pernah lagi singgah di raga ini. Biarkan nyawa ini tanpa rasa yang seharusnya. Biarlah rasa tak pernah berpijak di badan dan menjadi sandaran rasa….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar