Selasa, 30 November 2010

Perempuan Tangguh

Aku takut kegelapan. Tapi, aku sangat suka dengan malam
Malam..
Malam adalah sahabatku. Malam selalu menemaniku di saat aku galau
Menjadikan aku perempuan tangguh di tengah badai yang menerpaku
Malam..
Aku bisa menatap Langit dengan lekat sebagai kasihku tanpa orang lain tahu
Malam...
Peluklah aku dalam rangkaian tidurku menuju fajar
Malam...
Berjanjilah padaku untuk setia padaku
Malam..
Jagalah aku

Ketika malam beranjak pergi
Perlahan fajar menggapai pagi
Pagi..
Smua orang menyambut datangnya pagi tapi tidak untukku
Aku benci mendapati pagi dengan kemelutnya
Pagi..
Ingin menghindari pagimu yang seakan memiliki impian

Kamis, 25 November 2010

Langit Yang Pongah

Jangan pernah mau memandang langit yang indah di pandangan kita. Manusia selalu lupa dimana mereka berpijak. Manusia berpijak di bumi. Tapi, selalu merusaknya, memberinya air mata. Aku yakin. Hanya bumi yang dapat air mata kita. Langit selalu membuat penghuni bumi kocar kacir dengan suasana yang diciptakan olehnya. Petir membuat kita serangan jantung. Hujannya berambisi besar menenggelamkan manusia.

Langit pongah menurutku...

Selasa, 23 November 2010

Hati


Ketika hati bicara. Mata syarat mengajukan permohonan tentang isi yang berada di dalamnya. Singasanamu terlalu tinggi untuk aku bernaung dalam jiwamu.

Ingin trus mengudara di hatimu. Berpijak di dadamu. Nelangsa melewati batas waktu yang akan memisahkan dua insan. Mencari tempat persinggahan hati yang lara. Ku titipkan penat hatiku di antara pesan yang tertinggal. Meraih asa di himpitan rasa yang gamang.

Tak bisa membaca kosa kata yang ku terima di antara rasa yang mendera. Lebih baik kembali ke garba sang bunda. Jika tak mengerti arah laranya hati yang terhempas. Berpacu dengan kecepatan. Menggilas waktu kepenatan. Berlari mengejar impian melalui kepakan sayap yang tersayat.

Berkutat dengan waktu. Berjuang untuk kehidupan. Berlari dari bayangan semu. Menghampiri yang terjadi. Membunuh rasa yang ada. Jangan kau hadir saat ini. Jiwaku hambar dari rasa. Imajinasi yang terisolasi luka. Gerimis pagi mengundang rasa tak terbilang.

Langkah menapaki pagi yang menyilangkan rasa yang ada. Mengusir rasa yang membuncah. Rasa segera lari tak terperi. Rasa sibuk terus berlari tanpa tahu dimana dia harus singgah. Berharap rasa tak pernah lagi singgah di raga ini. Biarkan nyawa ini tanpa rasa yang seharusnya. Biarlah rasa tak pernah berpijak di badan dan menjadi sandaran rasa….

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...