Jumat, 15 Desember 2017

Brownies Kukus Kweni Coklat

Musim hujan telah tiba. Biasanya perut akan terasa cepat lapar. Alangkah asyiknya ada makanan. Apalagi menonton televisi disambi ngemil. Ini kali pertama saya menulis resep saya sendiri di blog. Biasanya saya hanya share it dari facebook di halaman resep makanan.

Tidak ada mixer tidak usah gundah. Saya gunakan garpu untuk mengocok telurnya bunda.

Brownies Kukus Kweni Coklat

Bahan-bahan:

12   sdm tepung terigu serbaguna
  2   butir telur ayam
  6   sdm gula pasir
  6   sdm minyak goreng
  1   sdt vanili bubuk
¼   sdt soda kue
  2   sachet Susu Kental Manis Coklat
  1   buah mangga kweni diblender
50   gram dark coklat batangan
100 gram keju parut untuk taburan

Langkah-langkah:

Siapkan panci kukusan. Bungkus tutupnya dengan kain serbet. Agar air tidak menetes ke kue. Biarkan airnya mendidih.

Dalam wadah campur telur dan gula pasir. Kocok telur dan gula pasir hingga berbuih dan gula larut.

Masukkan minyak goreng, susu kental manis, mangga kweni yang telah diblender, soda kue, vanili bubuk dan tepung terigu. Aduk hingga tercampur dengan rata.

Tuangkan adonan yang telah diolesi mentega atau minyak goreng. Kukus selama kurang dari 30 menit hingga matang. Lakukan tes tusuk lidi. Jika adonan tidak lengket di lidi tandanya brownies sudah matang.

Angkat brownies dan taburi dengan coklat batangan dan keju parut. Potong dan sajikan.

Senin, 01 Mei 2017

Tetangga Kok Gitu

     Pertama kali nonton drama bergenre komedi Tetangga Kok Gitu saya tak pernah tidak tersenyum. Lucu. Ternyata ya memang ada tetangga modelnya gitu. Aneh tapi begitu kenyataannya.
     Tidak pernah ada dalam mimpi saya yang sejak lahir tinggal di Jakarta pindah ke Bantar Gebang, Bekasi. Merantau suami saya bilang. Mendengar kata merantau saya terkial. Maklum Jakarta ke Bekasi itu sekitar satu jam dengan catatan tidak macet.
     Ingin sekali menuliskan kisah saya sejak menginjakkan kedua kaki saya di sini. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merekam jejak yang ada dalam kehidupan bertetangga.
     Ketika memutuskan untuk tinggal di sini. Saya berpikir akan baik-baik saja. Maklum seingat saya ketika di Jakarta tidak pernah usil dengan kehidupan orang lain atau sekedar kepo. Ternyata oh ternyata. Pergaulan kehidupan bertetangga di sini penuh hiruk pikuk bagai panggung sandiwara.
     Tak kenal maka tak sayang tak berlaku di sini. Kenal maka tak sayang. Semakin kenal semakin tak sayang.
     Membeli perhiasan buatku hanya investasi semata. Tak ada keinginan riya binti pamer. Sekali waktu butuh bisa langsung ke pasar dijual untuk memenuhi kebutuhan.
     Di sini lain cerita, pernah saya membeli sebuah gelang emas. Kebetulan suami memiliki kerja sampingan sebagai kuli bangunan. Maklum pabrik lagi sepi. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Maksud hati si gelang bisa menolong kami untuk membayar kontrakan kami bulan depan.
     "Bapak Namiera dapat dua juta kerja di belakang?" Tetangga sambil melirik gelang yang saya pakai. Ini kisah pertama.
     "Assalamu'alaikum Namiera! Saya mau minta uang angsuran kasur. Abis besok-besok terus sih kalo Si Ijah nagih." Suami tetangga ceritanya nagih utang. Ya Allah... Rasanya lemes tulang belulang saya ditagih utang karena merasa tak memiliki utang pada yang bersangkutan. Ini kisah kedua.
     "Nam, nanti kita daftar sekolah bareng yuk!" Esih, tetangga sebelah ribut banget mau sekolah bareng. Dia woro-woro tiga bulan sebelum daftar. Tiba-tiba anaknya udah masuk sekolah dua minggu dia diam aja. Huft, rasanya pengen banget nabok mukanya. Dua minggu sebelum daftar dia sempat pinjam beras ke rumah. Kok ya dia diam aja. Kontrakannya cuma beda satu pintu. Ini kisah ketiga.
     Teman satu pabrik ketahuan ada affair. Satu pabrik ramai. Tiba-tiba salah satu tetangganya teman saya inbox ingin kepo tentang teman saya ini. Yang saya heran, teman saya ini baik banget sama tetangganya. Eh, kok tega ya tetangganya kepo urusan teman saya itu? Saya yang diinbox lewat fb sangat malas menanggapi keponya tetangga teman saya itu eh keponya nggak berjalan mulus di block pertemanan saya. Kisah terakhir.
     Ternyata tetangga kok gitu itu nyata. Saya mesem sendiri. Lucunya yang berurusan dengan saya pasti berani hanya di belakang saya. Apalagi sifat saya yang terkadang luar biasa ceplas ceplos tanpa tedeng aling.
     Saya manusia yang nggak bisa di depan baik di belakang menikam. Apalagi dulu saya belum berhijab. Saya tak pernah takut dengan siapapun. Selagi saya benar. Setelah dua tahun ini barometer pakaian saya lumayan tertutup. Saya lebih sabar menghadapi tetangga yang modelnya "Kok Gitu".
     Tapi, saya kan tetap manusia biasa. Kadang lepas kontrol juga. Saya berusaha memahami orang lain. Meskipun, dia orang yang paling saya benci.
     Terlepas dari semuanya. Saya pasrah saja sama Allah. Mungkin Allah menguji keimanan saya lewat "Tetangga Kok Gitu". Terus saja berprasangka baik. Insya Allah akan baik hasilnya. Tetap semangat... Yakin Allah Maha Baik. Tetangga sedikit yang baik itu lebih baik.    
    
    
    


Sabtu, 03 Januari 2015

Dunia oh dunia

    Berada di dunia maya sangat mengasyikan. Tidak pernah ada kata bosan walau hanya wara wiri menelusuri si Google. Imajinasi liar seakan tidak pernah tidur. Lain halnya untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar.Amat sangat membosankan.
    Bergunjing tak lagi lain adalah menjadi bahasan utama. Apalagi jika bertemu dengan salah dari mereka yang keponya sudah maksimal alias akut. Rasanya panas dunia ini. Topik bahasannya tidak jauh adalah perabot baru yang mereka miliki. Perabot hasil kredit rasanya tak lagi masalah untuk jadi ajang pamer. Salah satu dari mereka pun dengan rela meminjam uang bank untuk membeli perhiasan untuk menarik perhatian orang lain.
    Beberapa tahun terakhir berusaha untuk menjauh dari sekitar. Pergi ke pabrik jika ingin atau lebih nyaman rasanya berada di dalam rumah. Menikmati secangkir kopi, menghabiskan buku bacaan yang ada, berkelana di dunia maya atau hanya sekedar menonton dvd drama korea.
     Kekecewaan demi kekecewaan yang mendalam dengan tetangga sekitar. Membuat langkah demi langkah menjauh untuk kenyamanan diri sendiri. Media sosial sangat dekat dengan hidupku. Mungkin dikarenakan hobi menulis dan membacaku yang membuat aku nyaman berada di duniaku sendiri. Di media sosial aku bisa jadi diriku sendiri.
     Lain halnya kehidupan di dunia nyata yang terlihat nyata tapi hoax. Di depan mereka terlihat menarik, baik hati di media sosial menghujat tapi tak punya nyali menghadapi orang yang dihujatnya.
     Entahlah... Sepertinya duniaku tak lagi berada di sekitar. Say hello seperlunya. Ada yang bertamu diperlakukan dengan sangat baik. Tapi, jika untuk berkunjung ke tempat tetangga biasanya sudah ada tema pokok yang dibicarakan.
     "Hidup cuma sekali jangan dipikir-pikir lagi. Lebih baik move on aja. On the way melupakannya." Begitulah kira-kira syair lagu dari NDX berjudul Move On yang membuatku asyik-asyik aja melalui hari-hari Tetangga Kok Gitu.
    
 

Selasa, 04 Maret 2014

SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi, Sekolah Nyaman di Hati Juga Di kantong

Setiap orang tua acap kali menginginkan sang anak sekolah di tempat terbaik begitu juga dengan saya. Tapi, melihat ekonomi keluarga, saya urung menyekolahkan anak saya di tempat yang saya idam-idamkan. Selain biaya yang mahal, saya tak ingin anak saya sia-sia dalam menuntut ilmu. Rasanya nggak banget kalo tiba-tiba anak saya berhenti sekolah karena masalah biaya yang tinggi.

Di sekolah negeri mana pun memang gratis. Tapi, masih banyak guru yang membebani siswanya dengan uang ini dan itu.

Ada rasa percaya dan tidak percaya ketika salah satu tetangga menyarankan sekolah di SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Menurut si ibu, sekolah di sana nggak takut bayar ini dan itu. Gurunya juga toleran terhadap siswa dan siswinya.

Pada akhirnya saya menyekolahkan putra semata wayang saya di SDN Padurenan V, alhasil yang dikatakan si ibu tetangga saya itu benar adanya. Tak kurang dan tak lebih informasinya tentang sekolah ini. Pas.

Bapak dan ibu gurunya ramah. Tak pernah ada uang ini dan itu. Memang, banyak sekolah menjadi terdepan karena kedisiplinannya.

Tidak jarang saya melihat anak tetangga menangis urung untuk pergi ke sekolah karena belum bayar ini dan itu. Sedangkan orang tua sedang dilema keuangan keluarga. Dan saya sangat tidak menginginkan ini terjadi kepada anak saya.

Alhamdulillah, itu tidak terjadi kepada anak saya. Terkadang si ibu guru memberi saran untuk membeli sebuah buku. Tapi, bukan berarti wajib hari itu dibeli.

Sekolah di SDN Padurenan V, memang nyaman di hati para orang tua dan siswa itu sendiri. Terima kasih bapak dan ibu guru yang baik hati dalam membimbing siswa dan siswinya.

Rabu, 04 Desember 2013

Poligami

Selamat pagi Indonesiaku!


Menulis blog masih dalam meraba-raba tentang apa yang akan ditulis. Entah mengapa sisi keperempuananku berontak jika membaca atau terlintas kata poligami.

Aku tidak anti pada poligami. Tapi, lebih menghormati diriku sendiri sebagai perempuan. Aku punya alasan tersendiri untuk benci yang namanya poligami.

Aku pernah gagal dalam berumah tangga. Sebelum memutuskan berpisah dari pernikahan terdahulu aku menghendaki dan setuju dengan poligami.

Suamiku terdahulu memiliki wanita idaman lain. Untuk menyelamatkan rumah tangga kami aku mengusulkan tentang poligami. Pada dasarnya suami setuju. Apalagi mengingat ketika itu aku tengah mengandung.

Dasar perempuan keparat aku menyebutnya. Dia tak mau jadi maduku. Dia hanya mau jadi istri tunggsl. Sial! Ambil suami orang kok ya serakah! Sejak itu aku no poligami.

Jumat, 15 April 2011

Pengumuman

Indri sudah kelelahan mendengar ocehan sang Emak yang kerap memintanya menikah lagi. Maklum Indri sepertinya juga sudah patah arang dengan ceramah Emaknya yang makin menggila belakangan ini.Rada kesel ternyata punya status tidak mengenakan ini. Janda maksudnya :D Tetangga suka ngomong yang aneh bin ajaib malah. Indri klenger bunder dengan predikat ”Janda” ini. Bukan hanya Indri yang stress dengan statusnya. Perempuan sejagad juga nggak ingin punya stempel yang bikin kuping merah kalo ada desas bin desus tentang yang ga enak ini.

Bukan Indri namanya kalo ga punya kiat jitu membuat label ”Janda” jadi begitu bermartabat dan naik kelas istilah anak sekolahan. Indri yang juga punya banyak kriteria untuk calon suami yang berikutnya. Seiman itu sudah pasti. Tapi, apa suami edisi mendatangnya mau menerima Indri yang diatas rata – rata perempuan masa kini.”Wanita karier mah biasa! Gue rada aneh gini. Apa suami gue nanti ngijinin buat ngayap seenak jidat gue? Gue pasti ga bisa ke Monas jalan kaki lagi. Ga bisa ngerem lama – lama di Pasar Senen liat buku bekas.” Gundah Indri suatu malam.

Jatuh bangun Indri mengejar jodoh. Hampir mirip dengan lagu dangdut pokoknya. Indri punya banyak impian. Tapi, ada satu impian aneh setelah dirinya berumah tangga kelak nantinya. Indri tak mau punya anak lagi. Indri kapok ditinggal suami terdahaulu saat hamil. Bagai mendapat wangsit Indri terjaga dari tidur malam yang sering diisinya dengan mendekatkan diri pada PenciptaNya. Menulis sebuah pengumuman dilakukannya diantara sadar dan tidak. Dengan komputer bututnya Indri meyakinkan diri.
Inilah ciri – ciri yang tidak akan membuat dirinya susah lagi. Tidak perlu ketakutan kemana pun si suami pergi. Jujur. Dalam hatinya terdalam tak ada keinginan menikah kembali.

Di suatu sore saat Indri melenggang dengan cueknya menuju warung langganannya.
”Mba, kalo jadi istri simpanan saya mau ga?” celetuk usil salah satu suami tetangga Indri.
”Ga masalah mas! Berarti mas sudah baca ya? Pengumuman di mading pos Ronda kalo saya cari suami yang impoten.” Indri menjawab sambil ngeloyor pergi dengan tersenyum puas.

                                                        ”Pengumuman”
·        Dicari suami perjaka atau duda
·        Umur minimal 30 tahun
·        Penampilan ( lumayan kalo diajak kondangan )
·        Impoten  ( WAJIB )

Hanya orang yang bermental tinggi bisa menikahi Indri. Tak perlu takut memahami poligami. Di Al Quran tertulis. Tidak ada manusia yang bisa bersikap adil. Bukankah poligami harus bersikap adil? Hampir 1001 kisah poligami akibat nafsu. Jadi, trik ”Pengumuman” ala Indri patut ditiru J

Kamis, 07 April 2011

Pangeran Sukowati


Malam dibilas gerimis. Bahagia melihat Pangeran Sukowati bahagia. Walau celoteh milik Permaisuri atau ibundanya Pangeran Sukowati kadang membuyarkan rasa yang ada. Nana langsung kabur dari pandangan sang Pangeran Sukowati. Tak tega melihat si Permaisuri yang tak kenal tempat memarahi Pangerannya. Nana memahaminya. Bahwa Pangeran Sukowati sudah dewasa. Walau Nana lebih dewasa dari si Pangeran. Nana memperjelas rasa yang ada dalam hati. Mencoba melerai rasa yang bermunculan tanpa dikomando.
”Kok bisa ya aku jatuh cinta ama kamu?” gerutu Nana dalam hati.
Gila rasanya kalau saja aku beneran jatuh cinta sama kamu, gelisah Nana.
”Semua karena sikapmu berlebih untukku.” Nana bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri.
Sedih jika menemukan tampang kerasmu berubah kuyu. Setelah aku tahu dirimu sakit. Hatiku gundah. Ingin rasanya aku ada di sampingmu. Segera mengirimkan pesan singkat.
Get well soon J
Hmmm...
Hanya bisa berdoa agar kamu cepat sembuh. Aku tahu, ada yang aneh pada setiap tingkah aku dan kamu. Nana berbicara pada hati kecilnya.
”Mbak, sepertinya mas Man naksir sampeyan deh!” celetuk Isti salah satu sahabat Nana..
”Hahaha... apa ya? Walau aku punya perasaan yang sama. Aku ra wani karo mboke.” Nana membalasnya dengan berkelakar. Padahal Nana berani bersumpah atas nama Tuhan. Itu jawabannya yang paling jujur.
Cinta tak kenal usia, pekerjaan ataupun pangkat itu nggak salah.
Status Nana yang single mom membuat Nana mati kutu. Tak berani berkhayal tentang diri mas Man terlalu jauh. Mas Man itu belum pernah menikah. Sedangkan aku sudah punya sepasang buah hati. Walaupun hati kami berkata ya. Aku rasa pihak orang tuanya tak kan merestuinya.
Telepon genggam Nana bergetar. Pesan singkat dari Isti untuk Nana,
Dimanakah dirimu berada mbakyu? Tidakkah sampeyan berhasrat menengok Metro? Setelah diguyur hujan. Bumi Metro kembali disambangi sinar mentari yang membuat Pangeran Sukowati datang ketika aku hendak merayapi mimpi dan menanyakan kehadiranmu.
Nana yang kerap baru menyapa mimpi setelah sholat subuh merasa sulit kembali melihat dunia. Masih disengat rasa kantuk yang bisanya belum ada penawarnya. Isti selalu membangunkan Nana dengan mengirimkan pesan singkat.
Hmmm...  andai dia bisa berani menguras rasa yang dia punya untukku L kebaikannya takut membuat aku lupa diri tentang siapa aku. Permaisuri Sukowati pasti tak kan pernah merestui aku yang hanya single mom berdampingandengan  putra sulung tercintanya. Oalah... seperti disabet sapu lidi saat mimpi. Aku nggak berani jeng.
Pesan singkat hanyalah sebuah fitur. Tapi inilah sekilas sms yang Nana sering kirimkan pada Isti sahabatnya. Yang keberadaannya tepat di sebelah warung ”Bakso Sari Rasa Sukowati” yang sering Nana sambangi. Isti, sahabat Nana inilah yang telah mengganti nama Mas Man menjadi Pangeran Sukowati. Tak pernah ada yang singkat isi pesan Nana untuk sahabatnya ini atau sebaliknya. Sms yang menyenangkan buat Nana.
Sepanjang ruko Metro Nana berjalan sambil membaca buku. Sebuah novel biografi nabi Muhammad SAW ’Lelaki Penggenggan Hujan’ karya Tasaro GK ada dalam genggamannya. Masih berada dihalaman 113. Nana memutuskan membacanya sambil berjalan. Dan itu hal biasa buat Nana. Membaca adalah hobi. Dan Nana sendiri sedang menekuni dunia menulis.
”Halo mbakyu! Piye perjalanannya kali ini?” mas Man menyapa kedatangan Nana. Dengan tas ransel hijau army dan sepatu keds plus kerudung gayanya yang tomboy. Nana membalasnya dengan memasang senyum terbaiknya.
”Baik. Kalo kangen mbok ya ngomong mas!” ledek Nana saat itu juga. Tapi, tanpa ada ibunya yang super bawel itu. Deretan gigi mas Man terlihat saat dia nyengir kuda. Dan tertawa lepas. Nana suka tawanya.
Setiap hari dan setiap saat hanya itu yang Nana lewati bersama Pangeran Sukowati yang saat ini menyita waktu segenap jiwa Nana yang kosong. Tertawa bersamanya membuat hati Nana seperti punya kekuatan ekstra. Wujud rasanya yang berlebih untuk mas Man pun Nana menyalurkannya lewat tulisan. Nana yang tadinya tidak berniat menulis antologi kuliner. Akhirnya ikut serta dengan menampilkan kuliner ala ”Bakso Sari Rasa Sukowati”. Cinta membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Aku akan membiasakan diri menulis tanpa hadirnya dirimu. Hadir tidaknya dirimu semakin sulit aku menempuh halaman berikutnya. Aku harus belajar!!! Walau dirimu absen panjang. Aku yang memang terbiasa sendiri. Harus sendiri. Tanpa sahabat mungkin L
Aku kehilangan sesuatu...
Sesuatu tentangmu kekasih imajinasiku. Halaman kembali seperti kertas roti yang dijajakan keliling dengan pikulan. Seperti aku memikul halamanku yang susah aku lewatkan tanpa sosokmu.
Nana mengisi buku hariannya dengan tidak biasanya. Penuh kata yang berbaur dengan isi hati tentang rasa yang Nana pikul. Ingin sekali Nana memberi tahu rasa yang Nana punya untuk si Pangeran Sukowati. Namun, sebagai perempuan timur yang masih menjunjung adat Jawa. Nana hanya bisa menunggu keajaiban yang Penguasa Jagad turunkan untuknya.
Hingga akhirnya Nana menyerah pada suatu keadaan yang terus menderanya. Mematikan rasanya kepada Pangeran Sukowati adalah yang terbaik buat Nana. Meskipun dalam hati Nana tertanam keyakinan bahwa Pangeran Sukowati mempunyai asa yang sama terhadapnya. Nana tidak ingin persahabatannya rusak dengan rasa yang tak kunjung mereda di kegalauan hatinya.
Tak pernah aku temukan lagi engkau di jiwa ini. Telah bosankah rasa berpijak di ragaku? Jawabnya hanya setetes air mata. Terdiam mencari sepatah kata yang tak bertuan. Ingin aku terus berada di sisimu. Namun,rasa tak mengijinkan raga ini. Meski rasa ini terus menghujam jiwa dari ketenangan hati.
Ingin aku segera pergi dari hidupmu. Membiarkan jiwaku kering dari rasa. Aku tersiksa dengan rasaku sendiri. Terkoyak bathin tak bertuan. Mencintalah dari jauh, melayarkan rindu yang tak pernah kunjung berlabuh. Sayangi dirimu tanpa membuatmu merasa terganggu. Panjatkan doa untukmu. Walau kamu tak pernah tahu aku memohonkan bahagia untukmu.
Ada segelintir rasa rindu yang menyelinap di hati Nana. Tulisan Nana penuh dengan rasa yang dia titipkan pada mas Man si Pangeran Sukowatinya.
Suasana di sepanjang ruko Metro lebih nyaman ketika matahari mulai meninggalkan tugasnya. Rasa berbalik arah. Seperti kemudi hilang kendali. Nana menepikan hatinya. Seutas rasa yang Nana miliki siap disimpan dalam peti mati. Yang Nana sendiri tak ingin lagi menyentuhnya.
”Aku mau ke Pekan Baru mas!” nada lirih diperdengarkan Nana ketika bercengkrama di pelataran warung ”Bakso Sari Rasa Sukowati”.
”Ke tempat siapa mbakyu?” diliputi rasa penasaran mas Man.
”Hampir satu bulan terakhir ini ada telepon yang nyasar ke ponselku. Nomernya mirip sekali dengan milikku. Aku ingin menikah lagi mas. Siapa pun dia aku tak pernah peduli. Aku ingin mengembalikan kodratku sebagai istri yang solehah. Rasanya aku tak mungkin menunggu seseorang yang tak pernah berani mengungkapkan isi hatinya kepadaku.” sindir Nana yang seperti kalimat tikaman untuk mas Man.
Suasana Metro seakan kembali gersang. Keheningan meliputi percakapan dua insan yang berusaha mengungkapkan isi hatinya. Namun hanya bisa diungkapkan dengan bahasa tubuh keduanya. Tatap mata Pangeran Sukowati menatapnya lebih tajam dari biasanya. Nana hanya bisa menghela nafasnya yang terasa sesak.
Bicaralah mas...
Agar aku tak perlu menyebrangi lautan untuk menjadi istri solehah milik orang lain. Aku mau menjadi bagian dari hidupmu. Menerangi hati dan menjadikan dirimu sebagai lentera hatiku.
Nana masih menunggu sampai waktunya tiba. Waktu yang Nana akan tentukan Juni mendatang. Nana terdiam dalam lamunan panjangnya bersama Pangeran Sukowati. Membiarkan sang waktu menjawab rasa yang terlena di area gundah gulananya.

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...