Jumat, 30 November 2018

[Writing Challenge] Katakan Cinta Pada Keluarga

Dear you in my heart,

Ketika menulis ini aku tidak sedang dilanda galau. Karena kamu pasti paham bahwa aku tidak punya kamus galau dalam hidupku. Semoga semangat hidupmu sama dengan semangat hidup yang aku punya. Semangat yang selalu ada dalam jiwa yang mungkin tak akan pernah tertiup angin walau aku hanya sebutir pasir yang ringan.

Menangisi hidup yang bertabur kerikil di telapak kaki rasanya tak pantas kita tangisi. Kita hanya patut bersyukur dengan hidup kita yang menurutku lebih baik dari sebelumnya.

Mengerti itu pasti, pasti kamu tidak tega melihatku dan anak-anak dilanda kecemasan karena leburnya ekonomi kita. Jangan pernah takut aku akan meneteskan air mata hanya karena lapar. Mereka terlahir dari gua garba yang pasti tak jauh beda dari si pemilik rahim. Akan memiliki jiwa yang kuat menemani keterpurukan ini.

Mungkin mereka akan menangis, percayalah, Sang Pencipta akan mengganti hari-hari kita yang lebih indah dari ini. Mengganti tangis menjadi senyum yang paling kita nanti. Sebagai ketua tim pasti ada keinginanmu membuat kita lolos dari rintangan yang tengah membelenggu kita.

Sesak yang aku rasakan bukan karena tetek bengek dengan rintangan di depan kita. Tapi, kehilangan senyum terbaikmu, tak lagi bisa berdendang dan bergoyang saat lagu dangdut koplo kesayanganmu mengisi rongga telinga. Aku seperti kehilangan nyawamu.

Come on! Aku dan anak-anak akan baik-baik saja. Ada atau tanpa sederet sesuap nasi sekali pun.

See… aku masih bisa melakukan apapun seperti biasa. Masih bisa terkial, berdendang dan bergoyang saat tembang Bon Jovi favoritku mengalun dari loud speaker yang kita beli dengan perjuangan kita bersama.

Ah, tetaplah seperti biasa mengisi hidup ini Kang. Seperti kita saling mengisi dunia ini dengan kebaikan dan menghindari keburukan.

Kali ini hanya doa yang bisa aku mohon pada Ilahi. Pekerjaan yang baik dan halal bagimu dan bagi kita semua. Kang, sebagai manusia jadilah manusia terbaik di mata Tuhan. Aku dan anak-anak akan terus menjagamu hingga menembus ruang dan waktu yang berbeda.


Qadriea Warastra
Bekasi, 7 Februari 2015 

Sabtu, 24 November 2018

Guru Bagai Pelita Dalam Kegelapan


Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
Dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir
Didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Saya menyanyikan lagu ini pertama kalinya ketika duduk di bangku SDN Guntur 04 Pagi di tahun 1986. Seperti anak-anak kebanyakan, saya menyanyi hanya sekedar menyanyi. Santai tanpa beban.

Memasuki usia remaja. Di SMPN 57 Jakarta, saya masih menyanyikan lagu ini di sekolah. Dan harus hapal not-not lagu di seruling warna putih tulang buatan Yamaha. Tak ada merk abal-abal kala itu. Belum musim kawe-kawe hehe...

Eh, ternyata saat di SMAN 79 Jakarta pun saya masih harus menyanyi lagu ini. Di tahun 1995 saya mulai paham apa maksud dari lagu ini. Tapi, sebagai murid yang rada badung dan membayangkan di saat pahlawan tanpa tanda jasa itu sering menghukum, saya biasa saja. Woles kata anak sekarang mah hihi...

Jaman kuliah saya tidak mood bernyanyi lagu wajib. Karena waktu terus padat merayap. Mengurus rumah tangga, bekerja dan kuliah sangat menyita waktu. Alhamdulillah dosennya baik dan nggak seperti guru di jaman sekolah. Ya beda sih hoho...

Seorang guru itu ternyata tidak semuanya berhasil dalam kategori materi. Masih banyak guru hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro mikirin mau jadi Pegawai Negeri Sipil yang jikalau bukan rejekinya susah banget jadi guru PNS.

Bapak Sartono menciptakan lagu Hymne Guru tidaklah sia-sia. Karena syairnya membuat kita selalu teringat akan jasa seorang guru. Guru sebagai pelita dalam kegelapan. Tanpa seorang guru apalah artinya kita sebagai murid di masa depan kita.

Tanpa seorang guru pastinya sulit membimbing anak-anak di saat kita menjadi orangtua. Di saat PR yang membludak, mana mungkin kita bisa membantu anak-anak kita tanpa kehadiran guru di masa lalu.

Ketika menjadi seorang murid saya masih cuek. Tidak paham arti seorang guru buat kehidupan kita. Tapi, di saat saya sudah memiliki buah hati yang harus mengenyam pendidikan. Barulah saya paham bahwa guru itu pahlawan tanpa tanda jasa benar adanya.



Namiera saat ini menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Falah, Bantar Gebang, Bekasi. Masih duduk di kelas 1D. Kerap kali saya mengintip di balik jendela. Seorang ibu guru yang tengah hamil muda mengajar 36 murid dengan berbagai karakter.
Saya hanya bisa mengelus dada.



Ibu Sati, begitu anak-anak memanggilnya. Harus mengajar anak-anak yang sedang beradaptasi dalam belajar. Biasanya di taman kanak-kanak lebih banyak bermain dan bernyanyi dibanding belajar.
Hampir setiap hari ibu Sati mengumumkan banyak hal lewat media sosial Whatsapp ke para orangtua dan wali murid. Masih saja ada murid yang tidak membawa buku. Dan kedapatan membawa banyak mainan ke sekolah.

Saya tertawa dalam hati. Ternyata, sampai saat ini dunia anak tidak pernah berubah. Saat saya seusia Namiera pun, ada salah satu teman saya yang demikian.

Sekali dua kali rasanya wajar. Tapi, kok ya makan hati juga hihi... Lah wong sering kali ibu Sati mengeluh kepada kami sebagai orangtua wali murid. Apalagi terkadang masih saja ada dari kami yang menuntut perhatian lebih untuk anak-anaknya di sekolah.

Syahreza Pasha memasuki tahun ajaran terakhir di SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Saya sebagai orangtua hanya bisa mendoakan lancar sampai saatnya tiba nanti.




Di kelas 6 seharusnya anak-anak sudah paham bagaimana tugas mereka di sekolah. Tapi, tetap saja, ibu Arifah, wali kelasnya masih melancarkan aba-aba lewat grup Whatsapp orangtua murid.
Masih banyak anak yang lalai mengerjakan tugasnya. Entah tugas sekolah ataupun PR di rumah. Kami selaku orangtua pun terus dan tak pernah bosan memberi nasehat untuk anak-anak kami.

Masya Allah tugas guru itu sangat berat. Mendidik anak-anak kami di sekolah. Saat anak-anak kami di sekolah tanggung jawab seorang guru begitu besar.

Selamat hari guru teruntuk guru dimanapun kalian berada. Jasa kalian tiada tara. Dan kami tak kan bisa membalas jasa kalian. Pahlawan tanpa tanda jasa yang tak pernah lekang oleh waktu.

Selasa, 20 November 2018

SDN Padurenan V di Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka


Tak kenal maka tak sayang. Itulah kali satu kalimat untuk mengenal lebih dekat SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Banyak sekali hal remeh temeh yang membuat para orangtua enggan menyekolahkan anaknya di SDN Padurenan V.

Lima tahun lalu jarak terdekat dari tempat tinggal kami menuju SDN Padurenan V hanya melewati sawah. Malah sering kali dibuat bahan candaan. SDN Padurenan V sekolah mewah alias mepet sawah. Tapi, sekolah bagi orangtua seperti saya adalah tempat menuntut ilmu. Bukan dilihat dari lokasi sekolahnya yang strategis.

Tidak ada yang pernah menduga saat ini SDN Padurenan V berada di lokasi perumahan Vida Bekasi. Tak ada lagi jalan becek menuju SDN Padurenan V. Jalan aspal mulus fasilitas milik perumahan Vida Bekasi mempermudah akses menuju sekolah.

Tahun ini adalah tahun keenam. Ya, karena anak saya sudah duduk di kelas enam. Begitu banyak perubahan setiap tahunnya. Bangga bisa menjadi keluarga besar SDN Padurenan V. Prestasi demi prestasi dipersembahkan siswa siswinya untuk sekolah kebanggaannya.

Hari Sabtu, tanggal 17 November 2018 SDN Padurenan V mengikuti Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka yang digagas oleh SMPIT Bahana Mandiri, Mustika Jaya, Bekasi. 


Jenis panca lomba :
 1. Sandi, morse, simaphore
 2. Pionering 
 3. LKBB
 4. Scout Intelegent
 5. Tahfizh Al Qur'an 30 juz

SDN Padurenan V mengirimkan putra putri terbaik untuk unjuk kebolehan di Gelar Kreativitas Panca Lomba kali ini.

Lomba sandi, morse dan simaphore dilaksanakan di dalam kelas. Bersebelahan dengan lomba Scout Intelegent. Sayangnya saya tidak menemukan dimana tempat lomba Tahfizh Al Qur'an karena begitu banyaknya peserta lomba yang berpartisipasi.

Fasilitas SMPIT Bahana Mandiri yang dilengkapi AC di dalam kelas membuat nyaman para peserta lomba rupanya. Terbukti anak saya langsung minta sekolah di SMPIT Bahana Mandiri.

Lomba Pionering yang menurut asal muasalnya berarti bangunan darurat, yaitu pembuatan suatu bentuk bangunan dengan menggunakan alat dasar tali dan tongkat untuk membuat bangunan. 

Latihan Ketrampilan Baris Berbaris atau LKBB dilaksanakan di lapangan. Saya sangat terpesona dengan lomba LKBB. Apalagi SDN Padurenan V mempertontonkan ketrampilannya dalam baris berbaris.


Sejak 1 November 2018 putra dan putri SDN Padurenan V mempersiapkan diri untuk berlaga di Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka kali ini. Musim kemarau yang telah berganti menjadi musim hujan tidak menyurutkan semangat mereka.

Saya selaku orangtua siswa yang rada cerewet terus berkomunikasi dengan wali kelas 6A, ibu Arifah. Bersyukurlah wali kelas yang tegas ini selalu memberi saya pencerahan.

Terbukti mereka bisa menyelesaikan tugas mereka di panca lomba dengan baik dan memuaskan. Menang dan kalah bukan masalah bagi skuad SDN Padurenan V. Itu terbukti dari semangat putra putri yang dengan sabar menunggu hasil lomba. Pada akhirnya SDN Padurenan V bisa unjuk gigi.

Dengan berhasil membawa 3 piala.

 * Juara 3 Pionering Putra


 * Juara 1 LKBB Putra

 * Juara 1 Scout Intelegent Putra


Terima kasih putra putri SDN Padurenan V yang tak pernah lelah menorehkan tinta emasnya. Bapak kepala sekolah Awang Zumawan yang terus memberi dukungan penuh dalam lomba ini. Dan bapak Deden Ahmad selaku pembina pramuka di SDN Padurenan V tanpa beliau rasanya tak mungkin bisa menjadi yang terbaik.


Good job... Good job... Good job aba-aba Akang Roman selaku pelatih dari SMP Daya Utama yang bertangan dingin yang terus memompa semangat adik didiknya dengan senyum yang tanpa henti.

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...