Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
Dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir
Didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Saya menyanyikan lagu ini pertama kalinya ketika duduk di bangku SDN Guntur 04 Pagi di tahun 1986. Seperti anak-anak kebanyakan, saya menyanyi hanya sekedar menyanyi. Santai tanpa beban.
Memasuki usia remaja. Di SMPN 57 Jakarta, saya masih menyanyikan lagu ini di sekolah. Dan harus hapal not-not lagu di seruling warna putih tulang buatan Yamaha. Tak ada merk abal-abal kala itu. Belum musim kawe-kawe hehe...
Eh, ternyata saat di SMAN 79 Jakarta pun saya masih harus menyanyi lagu ini. Di tahun 1995 saya mulai paham apa maksud dari lagu ini. Tapi, sebagai murid yang rada badung dan membayangkan di saat pahlawan tanpa tanda jasa itu sering menghukum, saya biasa saja. Woles kata anak sekarang mah hihi...
Jaman kuliah saya tidak mood bernyanyi lagu wajib. Karena waktu terus padat merayap. Mengurus rumah tangga, bekerja dan kuliah sangat menyita waktu. Alhamdulillah dosennya baik dan nggak seperti guru di jaman sekolah. Ya beda sih hoho...
Seorang guru itu ternyata tidak semuanya berhasil dalam kategori materi. Masih banyak guru hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro mikirin mau jadi Pegawai Negeri Sipil yang jikalau bukan rejekinya susah banget jadi guru PNS.
Bapak Sartono menciptakan lagu Hymne Guru tidaklah sia-sia. Karena syairnya membuat kita selalu teringat akan jasa seorang guru. Guru sebagai pelita dalam kegelapan. Tanpa seorang guru apalah artinya kita sebagai murid di masa depan kita.
Tanpa seorang guru pastinya sulit membimbing anak-anak di saat kita menjadi orangtua. Di saat PR yang membludak, mana mungkin kita bisa membantu anak-anak kita tanpa kehadiran guru di masa lalu.
Ketika menjadi seorang murid saya masih cuek. Tidak paham arti seorang guru buat kehidupan kita. Tapi, di saat saya sudah memiliki buah hati yang harus mengenyam pendidikan. Barulah saya paham bahwa guru itu pahlawan tanpa tanda jasa benar adanya.
Namiera saat ini menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Falah, Bantar Gebang, Bekasi. Masih duduk di kelas 1D. Kerap kali saya mengintip di balik jendela. Seorang ibu guru yang tengah hamil muda mengajar 36 murid dengan berbagai karakter.
Saya hanya bisa mengelus dada.
Ibu Sati, begitu anak-anak memanggilnya. Harus mengajar anak-anak yang sedang beradaptasi dalam belajar. Biasanya di taman kanak-kanak lebih banyak bermain dan bernyanyi dibanding belajar.
Hampir setiap hari ibu Sati mengumumkan banyak hal lewat media sosial Whatsapp ke para orangtua dan wali murid. Masih saja ada murid yang tidak membawa buku. Dan kedapatan membawa banyak mainan ke sekolah.
Saya tertawa dalam hati. Ternyata, sampai saat ini dunia anak tidak pernah berubah. Saat saya seusia Namiera pun, ada salah satu teman saya yang demikian.
Sekali dua kali rasanya wajar. Tapi, kok ya makan hati juga hihi... Lah wong sering kali ibu Sati mengeluh kepada kami sebagai orangtua wali murid. Apalagi terkadang masih saja ada dari kami yang menuntut perhatian lebih untuk anak-anaknya di sekolah.
Syahreza Pasha memasuki tahun ajaran terakhir di SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Saya sebagai orangtua hanya bisa mendoakan lancar sampai saatnya tiba nanti.
Di kelas 6 seharusnya anak-anak sudah paham bagaimana tugas mereka di sekolah. Tapi, tetap saja, ibu Arifah, wali kelasnya masih melancarkan aba-aba lewat grup Whatsapp orangtua murid.
Masih banyak anak yang lalai mengerjakan tugasnya. Entah tugas sekolah ataupun PR di rumah. Kami selaku orangtua pun terus dan tak pernah bosan memberi nasehat untuk anak-anak kami.
Masya Allah tugas guru itu sangat berat. Mendidik anak-anak kami di sekolah. Saat anak-anak kami di sekolah tanggung jawab seorang guru begitu besar.
Selamat hari guru teruntuk guru dimanapun kalian berada. Jasa kalian tiada tara. Dan kami tak kan bisa membalas jasa kalian. Pahlawan tanpa tanda jasa yang tak pernah lekang oleh waktu.