Minggu, 14 Januari 2018

Oppo A57 alias CPH 1701 Black

Siapa sih yang nggak ingin punya ponsel kekinian? Ponsel yang terus bermunculan akan membuat kita dilanda kebimbangan saat ingin membeli sebuah ponsel paling up to date.

Bulan Juli yang ceria menurut bayangan saya ternyata benar. Suami menawarkan untuk membeli ponsel baru. Bahagia banget rasanya hati ini. Maklum saat ini memiliki ponsel baru hanya mimpi di siang bolong.

Pilah pilih jatuh cinta pada Oppo A57. Karena ketika survey merk ponsel yang ok buat foto menurut saya adalah Oppo. Yang paling utama bikin jatuh cinta sama Oppo A57 adalah fisiknya yang kuat. Kuat dalam artian pas digetok-getok sama si mas Sales Promotion ponselnya masih baik-baik aja.

Warna pilihan sebenarnya sama gold tapi kok pas si mas Sales Promotionnya nawarin warna black saya malah pilih yang black ya hehehe... Biar nggak cepat kotor. Maklum, saya termasuk ibu-ibu dengan aktifitas tinggi. Apalagi saya bekerja di pabrik gula merah yang berwarna coklat dan lengket. Jadi, menurut saya pilihan warna black lebih cocok dari gold.

Dengan specification : 149.1x72.9x65(mm) and about 147g (with battery). Memiliki Camera depan 16 MP dan Camera belakang 13 MP secara otomatis hasil jepretannya seperti pemakaian camera profesional.

Untuk layar 5,2 inchi dengan balutan corning gorrila glass 4. Ram 3G dan internal memori 32 GB. Dilengkapi finger print 0,2 detik dan dapat ditambah microSD hingga 256GB dan juga support OTG dengan prosesor octa core dengan kecepatan 1,4Ghz. Baterai Oppo A57 didukung 2900MAH Li-PO. 

Enam bulan berjalan menggunakan Oppo A57 saya jadi mulai mengerti kekurangan dan kelebihannya. Pernah suatu kali si Oppo A57 tidak membaca simcard. Tepatnya di sim card 1. Saya sampai keluar keringat dingin dibuatnya. Karena ketika membeli saya harus mengeluarkan kocek sebesar IDR 2.799.000. Nggak kebayang kalo sampai rusak parah.

Di tengah kebingungan saya hanya coba otak atik ponsel tersebut. Diganti sim card lain sih tidak masalah. Ternyata si sim card yang bermasalah.

Menurut saya Oppo A57 termasuk salah satu ponsel smart jaman now yang dicari. Apalagi ditunjang dengan fitur yang sangat mumpuni. Sangat berguna untuk saya yang mulai menekuni dunia blogger. Cocok untuk selfie dan keperluan foto.

Tulisan ini adalah tugas menulis di kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam


Sabtu, 13 Januari 2018

Mewujudkan Impian Anak

Setiap insan memiliki cita-cita. Entah cita-cita yang hanya sekedar mimpi. Setiap anak biasanya memiliki begitu banyak cita-cita. Seperti kedua anak saya. Yang paling banyak cita-citanya adalah si bungsu Namiera.

Cita-cita pertama Namiera adalah menjadi dokter. Sebagai orang tua kami hanya bisa mengaminkan saja. Lalu cita-citanya berubah ingin menjadi polisi. Saya dan suami hanya bisa berdoa semoga cita-cita si bungsu terwujud. Tapi, alangkah kagetnya ketika cita-citanya berubah menjadi penyanyi dangdut. Kali ini kami sekeluarga mesem saja tak memberi tanggapan. Dan membuat Namiera cemberut.

Impian Pasha dari kecil memang tak pernah berubah. Ingin sekali menjadi seorang guru sampai sekarang duduk di kelas 5. Saya dan suami bangga dengannya yang selalu berprestasi di sekolah.

Pada suatu hari, Pasha bilang, "Mi, sekolahku ada di Youtube loh! SDN Padurenan 5 Kita Bisa."

Dengan durasi 5.37 menit saya jadi mengerti apa cita-cita Pasha saat ini.

"Cita-cita saya ingin menjadi ahli sejarah. Karena ingin memberitahu semua orang tentang sejarah Indonesia dan negara-negara lainnya."

Sungguh hati ini sangat terharu. Tak terasa buliran air mata mengalir. Apalagi jika mengingat masa lalu. Sejak dalam kandungan empat bulan Pasha tak memiliki sosok ayah dalam hidupnya. Sampai akhirnya saya kembali menikah dengan pertimbangan masa depannya.

Alhamdulillah... Sosok pengganti ayahnya. Memiliki rasa sayang dan tanggung jawab yang besar untuk menjadikan Pasha anak-anak pada umumnya. Yang memiliki rasa kasih sayang lengkap dari kedua orang tua.

Kami bukanlah sosok orang tua yang sempurna. Dari sisi ekonomi kami masih sering kekurangan. Namun tanggung jawab kami untuk mendidik anak-anak kami ada di pundak kami.

Bekerja di pabrik gula merah dengan upah borongan kami tekuni setiap hari. Kami berusaha memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan anak-anak kami. Tak peduli seberapa lelahnya kami.

Di kala pabrik kami tak ada aktifitas. Saya berjualan brownies rumahan. Dan suami menjadi kuli panggul gula pasir. Satu kali panggul beban dibahunya ada 50 kg gula pasir. Hanya dengan upah sekitar 15 sampai 17 ribu rupiah satu truk besar atau tronton.

Tak ada istilah menyerah atau mengeluh untuk mewujudkan impian anak-anak kami. Nilai dan prestasi anak-anak kami di sekolah seolah sebagai penyejuk saat kami sedang mandi peluh mengais pundi-pundi rupiah.

Tetap semangat 😊

Tulisan ini adalah tugas menulis di Kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam. 





Kamis, 04 Januari 2018

Brownies Membawa Berkah

Di tengah kebingungan saat dompet tak lagi berpenghuni. Sebagai seorang istri dan juga ibu, saya memutar otak bagaimana saya menambah pendapatan rumah tangga di kala pabrik tempat saya dan suami bernaung sedang sepi. Gundah gulana meraja. Istilah jaman nownya galau hehe...

Tak pernah menyangka hobi sehari-hari saya membuat kue. Menjadi ide anak laki-laki saya untuk menambah pundi-pundi rupiah. Reza merayu saya untuk membuat kue yang akan dijualnya di sekolah.

Awalnya saya ragu-ragu untuk mengabulkan permintaan anak lanang. Tapi, si bapak sangat mendukung ide tersebut. Dengan penuh pertimbangan akhirnya saya menyetujui idenya.

Dengan modal sangat terbatas saya berusaha untuk bangkit dengan berusaha dan tak melangitkan doa-doa meminta keridhoanNya. TanpaNya saya tetaplah bukan apa-apa.

Alhamdulillah saya masih menyimpan bahan-bahan kue untuk memulai usaha kecil ini. Resep yang selalu saya modifikasi sedemikian rupa setiap hari membuat saya percaya diri untuk memulai dari nol.

Tak ada kata terlambat untuk terus berusaha. Dengan adonan porsi kecil saya membuat brownies. Satu kali kukus ada 8 pcs brownies mawar. Itu pun dengan panci kukusan atau langseng pinjaman teman satu pabrik.

Masih dengan semangat yang tersimpan untuk memenuhi kewajiban sebagai orangtua. Demi kelangsungan hidup sekeluarga. Berjibaku pagi buta. Karena pabrik dijadwalkan masuk kembali hari ini.

Rasanya tak tega melihat suami yang rela bongkar muatan gula pasir berton-ton hanya dengan upah 150 ribu yang biasanya akan dibagi 8 atau 10 orang.

Saya tak ingin terbuai lagi dengan kondisi pabrik yang tak menentu. Biarlah saya akan memulai usaha kecil ini.

Ide cemerlang anak lanang dengan berangkat sekolah hanya membawa 8 pcs brownies mawar tidak sia-sia. Semuanya laris manis.

Pulang sekolah setengah berlari dengan rasa bahagia yang membuncah tiba di depan pintu dengan tidak lupa mengucapkan salam Reza berkata, "Ummi... Laris. Besok ada pesanan 20 pcs."

Hanya mampu bilang, "Alhamdulillah."

Terima kasih teman-teman atas dukungannya selama ini. Tanpa doa kalian saya tak akan bisa sekuat ini.

Karena masih ada list pesanan di hari berikutnya. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... 🙏

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...