Senin, 01 Mei 2017

Tetangga Kok Gitu

     Pertama kali nonton drama bergenre komedi Tetangga Kok Gitu saya tak pernah tidak tersenyum. Lucu. Ternyata ya memang ada tetangga modelnya gitu. Aneh tapi begitu kenyataannya.
     Tidak pernah ada dalam mimpi saya yang sejak lahir tinggal di Jakarta pindah ke Bantar Gebang, Bekasi. Merantau suami saya bilang. Mendengar kata merantau saya terkial. Maklum Jakarta ke Bekasi itu sekitar satu jam dengan catatan tidak macet.
     Ingin sekali menuliskan kisah saya sejak menginjakkan kedua kaki saya di sini. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merekam jejak yang ada dalam kehidupan bertetangga.
     Ketika memutuskan untuk tinggal di sini. Saya berpikir akan baik-baik saja. Maklum seingat saya ketika di Jakarta tidak pernah usil dengan kehidupan orang lain atau sekedar kepo. Ternyata oh ternyata. Pergaulan kehidupan bertetangga di sini penuh hiruk pikuk bagai panggung sandiwara.
     Tak kenal maka tak sayang tak berlaku di sini. Kenal maka tak sayang. Semakin kenal semakin tak sayang.
     Membeli perhiasan buatku hanya investasi semata. Tak ada keinginan riya binti pamer. Sekali waktu butuh bisa langsung ke pasar dijual untuk memenuhi kebutuhan.
     Di sini lain cerita, pernah saya membeli sebuah gelang emas. Kebetulan suami memiliki kerja sampingan sebagai kuli bangunan. Maklum pabrik lagi sepi. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Maksud hati si gelang bisa menolong kami untuk membayar kontrakan kami bulan depan.
     "Bapak Namiera dapat dua juta kerja di belakang?" Tetangga sambil melirik gelang yang saya pakai. Ini kisah pertama.
     "Assalamu'alaikum Namiera! Saya mau minta uang angsuran kasur. Abis besok-besok terus sih kalo Si Ijah nagih." Suami tetangga ceritanya nagih utang. Ya Allah... Rasanya lemes tulang belulang saya ditagih utang karena merasa tak memiliki utang pada yang bersangkutan. Ini kisah kedua.
     "Nam, nanti kita daftar sekolah bareng yuk!" Esih, tetangga sebelah ribut banget mau sekolah bareng. Dia woro-woro tiga bulan sebelum daftar. Tiba-tiba anaknya udah masuk sekolah dua minggu dia diam aja. Huft, rasanya pengen banget nabok mukanya. Dua minggu sebelum daftar dia sempat pinjam beras ke rumah. Kok ya dia diam aja. Kontrakannya cuma beda satu pintu. Ini kisah ketiga.
     Teman satu pabrik ketahuan ada affair. Satu pabrik ramai. Tiba-tiba salah satu tetangganya teman saya inbox ingin kepo tentang teman saya ini. Yang saya heran, teman saya ini baik banget sama tetangganya. Eh, kok tega ya tetangganya kepo urusan teman saya itu? Saya yang diinbox lewat fb sangat malas menanggapi keponya tetangga teman saya itu eh keponya nggak berjalan mulus di block pertemanan saya. Kisah terakhir.
     Ternyata tetangga kok gitu itu nyata. Saya mesem sendiri. Lucunya yang berurusan dengan saya pasti berani hanya di belakang saya. Apalagi sifat saya yang terkadang luar biasa ceplas ceplos tanpa tedeng aling.
     Saya manusia yang nggak bisa di depan baik di belakang menikam. Apalagi dulu saya belum berhijab. Saya tak pernah takut dengan siapapun. Selagi saya benar. Setelah dua tahun ini barometer pakaian saya lumayan tertutup. Saya lebih sabar menghadapi tetangga yang modelnya "Kok Gitu".
     Tapi, saya kan tetap manusia biasa. Kadang lepas kontrol juga. Saya berusaha memahami orang lain. Meskipun, dia orang yang paling saya benci.
     Terlepas dari semuanya. Saya pasrah saja sama Allah. Mungkin Allah menguji keimanan saya lewat "Tetangga Kok Gitu". Terus saja berprasangka baik. Insya Allah akan baik hasilnya. Tetap semangat... Yakin Allah Maha Baik. Tetangga sedikit yang baik itu lebih baik.    
    
    
    


Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...