Entah sudah berapa kali Langitha melihat sosoknya. Tidak hanya suaranya yang membuat Langitha selalu mencarinya. Rambut ikalnya yang selalu saja basah. Langitha pernah kepikir kalo pengamen yang ditemuinya pasti mengguyur rambut ikalnya dengan segelas air J
Langitha yang hobi jalan kaki. Kali ini sering naik angkot. Maksudnya biar ketemu pengamen itu lagi. Dengan gitar kecilnya pengamen itu menjajakan suaranya. Tidak hanya itu yang membuat Langitha kepincut sosok pengamen itu. Tapi, pengamen itu tidak memiliki jari jemari di tangan kanannya.
Hampir satu minggu ga ketemu sosok pengamen yang sering ditemuinya di lampu merah Graha Cijantung itu. Karena ada sesuatu yang harus dibeli di Gramedia Cijantung. Dan uang yang Langitha punya hanya cukup untuk barang yang akan dibelinya. Langitha jalan kaki dari rumahnya. Katanya Langitha dekat.
Kebiasaan Langitha kalo jalan kaki ga pernah tengak tengok. Hantam kromo. Kata orang pasti Langitha terburu – buru. Tapi, katanya itulah kecepatan standar jalan kaki miliknya. Kecepatan jalan Langitha akhirnya berbuah gemerisik di sepanjang pinggir jalan menuju tempat yang terkenal dengan Poci Cijantungnya.
”Brak”! Suara benda jatuh. Langitha ga peduli beberapa orang meneriakinya. Dengan lenggang kangkungnya Langitha dicegat sosok yang membuat mata kubilnya mendelik kaget.
”Biasa aja dong kalo jalan!” teriak si ikal yang ternyata bernama Bayu.
”Ups... Sorry L Maaf!” suara Langitha setengah keder.
”Sorry ama maaf emang beda ya?” serang Bayu ga peduli Langitha belum mudeng dengan kesalahannya membuat rusak gitar Bayu. Yang ditabrak Langitha secara tidak sengaja.
”Hmm... Salah gue apa ya bro? Lo ko kayaknya sewot banget?” Langitha menetralisir keadaan dengan melibas emosinya yang ternyata juga udah segunung.
“Bra bro! Gue bukan abang lotau! Lo harus ganti ini!” Bayu masih sengit. Sambil menunjuk gitarnya yang rusak dengan tangan yang tanpa jari – jari itu. Baru Langitha sadar kalo Bayu adalah orang yang dalam satu minggu ini ga lepas dalam benaknya.
”Ganti?” suara Langitha setengah berbisik.
”Ya!” jawab tegas Bayu.
Langitha langsung bergegas membuka tas ransel hijau army’nya. Dalam dompet Eiger ala perempuan Langitha mengeluarkan uang 60 ribu miliknya.
”Gue Cuma punya segini! Ga tau cukup atau ga buat ganti gitar lo itu. Ini periksa tas gue kalo lo ga percaya!” pasrah Langitha.
”Cuma itu?” Bayu dengan teliti menggeledah tas ransel Langitha.
”Cuma itu. Tadi ada orang baru melunasi kredit bajunya ke gue. Tadinya gue mau buat beli Al Quran yang transliterasinya. Karena gue belum pernah khatam Quran. Harganya 59 ribu di Gramedia.” Langitha menjelaskan tanpa diminta.
Bayu menatap tajam wajah Langitha yang melas. Baru diketahui bayu saat negosiasi penggantian gitar. Kalo ternyata hidupnya lebih beruntung dari Langitha. Begitu pun sebaliknya. Langitha bukan pelit melintasi hari dengan jalan kaki. Tapi, karena Langitha mengerti apa artinya uang buat hidupnya. Langitha yang selalu menghindar menatap tangan kanan Bayu yang tanpa jemari. Alunan nada dihasilkan bayu tanpa jari jemarinya berkat potongan kartu GSM bekas yang diikatkan karet diujung tangan Bayu yang tumpul tanpa jemari itu. Kebas pasti rasanya tangan yang menghasilkan melodi indah di telinga Langitha.
”Gue yakin Quran itu bisa membuat lo dan gue masuk surga.” Bayu mengedipkan matanya. Langita menjawab dengan anggukan lega.