Selasa, 20 November 2018
SDN Padurenan V di Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka
Senin, 04 Juni 2018
Kisah Indah Dari Padang Rumput
Judul buku : Kisah Indah Dari Padang Rumput
Pengarang : Shabrina WS
Penerbit : Bintang Kelas
Cetakan : Pertama 2018
Tebal buku : 160 halaman
Harga : Rp. 70.000,-
Ini adalah kisah-kisah indah dari padang rumput. Cerita tentang hewan-hewan yang berusaha mengatasi masalah-masalah mereka. Mengatasi ketakutan, mengatasi kegagalan, mengatasi rasa benci, mengatasi rasa curiga, perasaan kehilangan, dan kisah menarik lainnya. Kisah-kisah hewan yang mencari apa sesungguhnya masalah mereka dan putus asa dalam mencari jalan keluarnya. Kisah-kisah ini akan membawamu pada pikiran indah tentang keluarga, persahabatan, dan persaingan.
Selamat bertualang. Selamat berkenalan dengan Gazelle, Kiang, Vicuna, Meerkat, Wilddebeest, dan teman-temannya. Temukan kehangatan dan hikmah dari padang rumput yang indah. Semoga hikmah cerita yang ada bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan.
Setelah membaca buku Fabel Pembangun Karakter ini, saya merasa beruntung. Banyak banget kisah hewan yang dapat kita petik hikmahnya.
Dari lima belas kisah hewan yang ada, saya paling tertarik pada kisah Kapibara Dan Tepi SungaiYang sunyi. Mengingatkan saya pada kehidupan manusia yang sering berprasangka buruk. Biasanya hubungan antar tetangga nih! Padahal tidak tahu kebenarannya.
Tidak hanya itu, ternyata banyak sekali jenis hewan yang saya tidak tahu. Seperti Kiang, saya hanya tahu kerabat kuda itu keledai dan zebra.
Kumbang Kot juga salah satu hewan yang baru saya tahu tentang jenis kumbang yang memakan kotoran hewan lainnya. Yang saya tahu kumbang penghisap bunga.
Burung Peniru Dan Suaranya. Kisah ini cocok buat Pasha yang suka memotong pembicaraan umminya.
Nggak kaget sih kalo masalah nulis fabel sebagus ini. Karena mbak Shabrina WS bisa meraciknya dengan pas. Seperti lauk pauk lezat yang siap disantap. Tidak kekurangan satu pun.
Yang menarik lagi ada bonus sticker hewan-hewan lucunya. Sayang sekali nggak bisa difoto. Udah disiangin Namiera. Oh ya, di halaman belakang juga ada lembar aktivitas untuk diwarnai.
Sejak melihat penampakan buku ini ingin sekali segera membaca buku ini sesegera mungkin. Tapi, bacanya harus antri. Giliran pertama adalah Namiera. Karena menurut saya cocok banget buat dibaca Namiera. Karena Namiera sedang giat-giatnya membaca. Kalo Pasha mah nggak usah diragukan lagi soal baca. Mirip induknya hihihi...
Sebelum membaca, Namiera terlebih dahulu mewarnai lembar aktivitas. Nah, itu tuh yang paling bikin umminya nyanyi koplo. Kelamaanlah... Karena dia akan berimajinasi membayangkan warna yang cocok di lembar mewarnai itu.
Padahal kalo soal mewarnai Namiera suka aneh. Apalagi kalo nggak dipantau. Bikin yang lihat hasil mewarnainya gemes pengen nyubit. Lah wong, induknya paling nggak suka mewarnai.
Semoga setelah membaca Fabel Pembangun Karakter bisa jadi bahan renungan untuk anak-anak dan saya tentunya.
Minggu, 20 Mei 2018
Berhijab Tak Lagi Masalah
Selasa, 27 Maret 2018
Katakan Tidak Pada Plagiat
Menurut kamus Bahasa Indonesia yang saya punya, plagiat adalah mengambil atau pengambilan karangan, pendapat dan sebagainya orang lain dan disiarkan sebagai atau pendapat dan sebagainya sendiri.
Lagi dan lagi terjadi lagi di dunia kepenulisan. Mana banyak banget lagi karya yang dia jiplak. Nggak kira-kira, sekitar 24 atau 26 tulisan, dia tulis ulang dan disulap sebagai karyanya.
Huhuhu... Yang baca aja pada ngomel, nyolot, gondok sama perbuatan si plagiat. Apalagi yang si empunya karya. Ya marah abislah.
Manusia diciptakan sama Allah sebagai makhluk sempurna. Memiliki akal. Belum bisa menulis atau membuat karya yang bagus ya janganlah menjiplak karya orang.
Mending jualan brownies irit kayak saya. Lumayan. Dari pada nungguin rekening penuh hasil plagiat. Janganlah...
Saya terjun ke dunia kepenulisan tahun 2010. Itu juga nggak niat. Awalnya hanya sekedar curhat di catatan Facebook pada masa itu.
Membaca novel adalah hobi saya. Kalo abis baca novel saya sampai terbawa mimpi. Karena itu tandanya saya menikmati karya tersebut dan cocok di hati.
Satu per satu saya baca novel dari penulis baru atau penulis terkenal. Berdecak kagum dengan karya-karya mereka. Tapi, tidak sedikit pun berniat menjiplak karya orang lain.
Menjadi pengangguran dan kerjanya cuma ke perpustakaan pernah saya tekuni. Kegilaan saya membaca membuat saya bersemangat ke perpustakaan di jalan Merdeka Selatan jalan kaki setiap hari. Dulu, saya tinggal di Cijantung. Bayangin aja, duit nggak punya barang sepeser pun. Tapi, semangat membaca mengalahkan segalanya.
Di media sosial saya bertemu banyak penulis. Ya Allah... Rasanya bahagia banget. Bisa dekat dengan penulis yang saya baca karyanya.
Saya tahu kalau menulis itu susah buat saya. Walau banyak bertebaran buku berjudul "Menulis itu Gampang."
Tetap aja buat saya, itu susah. Itu terbukti banyak tulisan saya nggak pernah di acc penerbit. Tapi, nggak ngerti kenapa ya? Saya tetap aja tuh nulis sampai sekarang dan nggak berniat sekali pun buat menjiplak karya orang lain menjadi karya saya.
Buat saya menulis itu butuh proses. Banyak jalan kok di dunia menulis. Nulis aja dulu di buku harian. Atau bikin status yang panjang. Ingat! Bikin status juga jangan copas. Apalagi dengan bahasa yang tinggi. Nanti giliran ada yang komen keder jawabnya.
Kalau memang udah rejeki. Biar tulisan kita biasa aja. Kata orang mah itu bagus.
Biar tulisan kita amburadul. Yang penting nanti si editornya kan paham, tulisan atau karya si anu layak baca atau tidak. Jadi, nggak usahlah menjadi plagiator.
Menulis itu butuh pengorbanan. Tanya dah tuh raja dangdut, H. Rhoma Irama kalo nggak percaya. Gimana caranya beliau bisa nulis itu lirik lagu pengorbanan. Pasti dah beliau mengerti sekali arti pengorbanan.
Nggak usahlah bergaya ikut lomba cerpen. Biar dikata karyanya layak untuk dibaca. Lalu menjiplak karya orang lain. Tidak hanya perilaku yang butuh norma kesopanan. Menulis pun demikian. Bertindaklah sopan dengan tidak menjiplak karya orang lain.
Katakan tidak pada plagiat!!!
Minggu, 25 Maret 2018
Memutus Rantai Kemiskinan Dengan Pendidikan
Senin, 12 Maret 2018
Sauh
Judul buku : Sauh
Pengarang : Shabrina WS
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama 2017
Tebal buku : 221 halaman
Harga : Rp 54,000,00
Sauh
Bagaimana aku bisa berlabuh, pada hati yang bukan dermagaku?
Bagiku memberi harapan yang tak pasti kepadamu Sama seperti menaruh duri secara diam-diam, di hatiku, juga di hatimu.
Sengaja kusisakan jarak, karena aku butuh waktu mempersiapkan genggaman yang kuat untuk menggandengmu.
Kutanya kepada Tuhan di malam-malam panjang, apakah kita sepasang sayap yang diciptakan untuk mengepak bersama.
Namun, apa hakku menahanmu, jika ternyata kau dipertemukan dengan sayap yang lain.
Barangkali benar, kau dan aku sama-sama berjuang. Tetapi hanya Tuhan yang tahu, jalan yang kita tempuh... akan bersauh pada pertemuan atau perpisahan.
"Rosita, Danu, dan Firman bersisian dan bersilangan pada jalan takdir. Ketiganya meyakini bahwa setiap orang memperjuangkan cinta mereka dengan caranya sendiri. Tetapi, di musim yang lain, mereka didera pertanyaan.
Sejauh mana cinta harus diperjuangkan?"
Di prolog ditulis sebagian hidup kita adalah milik keluarga. Ya banget menurutku.
Setting tempatnya yang bagus dan indah membuat jatuh hati. Pacitan. Kota terkecil di Jawa Timur. "Serasa pulang kampung." kata suamiku. Ya iyalah... Lah wong suamiku asli Pacitan. Apalagi ada pondok Tremas tempatnya mondok dulu.
Rosita tipe perempuan Indonesia tempo dulu. Menunggu laki-laki menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Setia sampai dirinya sendiri dilamar masih setia menunggu seorang Danu.
Danu, laki-laki yang merasa bertanggung jawab akan keluarga. Ibu dan kedua adiknya menjadi tanggung jawabnya. Tapi, Danu bikin sebel. Aku sebel dengan tokoh ini. Membuat perempuan lama menunggu hehe...
Firman. Nah, ini dia tokoh laki-laki seharusnya. Bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya. Hatinya masih setia dengan kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi, ketika dijodohkan berusaha menerima.
Setelah membaca buku ini dengan waktu yang cukup panjang. Akhirnya tuntas juga. Maklum, waktu luangku saat ini hanya sedikit. Harus benar-benar berjuang untuk membacanya sampai tuntas.
Yang membuat aku menabung Rp 1000,00 setiap harinya selama 54 hari untuk membeli buku ini adalah penulisnya baik. Walau belum pernah bertemu di dunia nyata, sepertinya media sosial yang mempertemukan penulis dan pembaca setianya.
Terus berkarya ya mbak Eni :)
Selasa, 06 Februari 2018
Hewan Bukan Mainan
Judul buku : Hewan Bukan Mainan
Pengarang : Ratna DKS
Penerbit : Kompas Gramedia
Cetakan : Pertama 2018
Tebal buku: 84 halaman
Harga. : Rp. 48.000-.
Oh, senangnya punya hewan peliharaan!
Bisa diajak bermain, bisa menemani saat sendiri, bisa juga diajak mengobrol!
Eh, kalau yang terakhir itu, mereka mungkin hanya mendengarkan kita saja sambil mengangguk-angguk, ha ha ha!
Namun, apakah kita tahu bagaimana perasaan mereka?
Dan apakah kita sudah memelihara mereka dengan benar?
Ayo, ikuti kisah Rizky dan Rara, kakak beradik penyayang hewan, dan bertemu berbagai macam hewan peliharaan!
Dalam kumpulan kisah kakak beradik Rizky dan Rara penyayang hewan. Sebelas cerita hewan yang dikemas apik oleh seorang ibu beranak dua ini biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan Namiera adalah membeli klomang atau keong yang dicat warna warni di pasar atau di depan sekolah SDN Padurenan V, tempat kakaknya sekolah.
Biasanya klomang dijual sepaket dengan rumah-rumahan yang terbuat dari karet sejenis yang biasanya digunakan untuk karpet atau sandal.
Namiera, anak saya sangat bersemangat membaca kisah dalam buku ini. Karena saya hanya mengijinkannya membaca satu hari hanya satu cerita. Namiera anteng kalo sudah membaca. Walaupun masih banyak kata yang belum dipahaminya.
Sekarang Namiera mulai mengerti bahwa memelihara hewan itu nggak mudah seperti imajinasi miliknya.
Tidak lagi gemes jikalau melihat kucing kampung yang lalu lalang lewat atau sekedar mampir untuk beristirahat di teras rumah kita.
Saya baru baca dua kisah dari sebelas kisah menarik lainnya. Maklum bacanya berebutan he he he! Buku ini bagus untuk anak-anak yang hobi beli hewan untuk mainan sepulang sekolah. Agar anak-anak paham bahwa hewan juga makhluk yang ingin hidup bebas di habitatnya.
Diary Ramadhanku
1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...
-
Satu minggu telah berlalu, tapi di hati masih saja terkenang tas cantik hasil karya Siswa Wirausaha PKBM Ginus Itaco. Ya... pada hari Minggu...
-
.Banyak peristiwa di tahun 2017 masih pekat dalam ingatan. Tak disangka tak pernah dikira dalam otak saya tiba-tiba jadi hobi bikin makanan....
-
Tak kenal maka tak sayang. Itulah kali satu kalimat untuk mengenal lebih dekat SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Banyak sekali hal rem...











