Pertama kali nonton drama bergenre komedi Tetangga Kok Gitu saya tak pernah tidak tersenyum. Lucu. Ternyata ya memang ada tetangga modelnya gitu. Aneh tapi begitu kenyataannya.
Tidak pernah ada dalam mimpi saya yang sejak lahir tinggal di Jakarta pindah ke Bantar Gebang, Bekasi. Merantau suami saya bilang. Mendengar kata merantau saya terkial. Maklum Jakarta ke Bekasi itu sekitar satu jam dengan catatan tidak macet.
Ingin sekali menuliskan kisah saya sejak menginjakkan kedua kaki saya di sini. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merekam jejak yang ada dalam kehidupan bertetangga.
Ketika memutuskan untuk tinggal di sini. Saya berpikir akan baik-baik saja. Maklum seingat saya ketika di Jakarta tidak pernah usil dengan kehidupan orang lain atau sekedar kepo. Ternyata oh ternyata. Pergaulan kehidupan bertetangga di sini penuh hiruk pikuk bagai panggung sandiwara.
Tak kenal maka tak sayang tak berlaku di sini. Kenal maka tak sayang. Semakin kenal semakin tak sayang.
Membeli perhiasan buatku hanya investasi semata. Tak ada keinginan riya binti pamer. Sekali waktu butuh bisa langsung ke pasar dijual untuk memenuhi kebutuhan.
Di sini lain cerita, pernah saya membeli sebuah gelang emas. Kebetulan suami memiliki kerja sampingan sebagai kuli bangunan. Maklum pabrik lagi sepi. Tak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Maksud hati si gelang bisa menolong kami untuk membayar kontrakan kami bulan depan.
"Bapak Namiera dapat dua juta kerja di belakang?" Tetangga sambil melirik gelang yang saya pakai. Ini kisah pertama.
"Assalamu'alaikum Namiera! Saya mau minta uang angsuran kasur. Abis besok-besok terus sih kalo Si Ijah nagih." Suami tetangga ceritanya nagih utang. Ya Allah... Rasanya lemes tulang belulang saya ditagih utang karena merasa tak memiliki utang pada yang bersangkutan. Ini kisah kedua.
"Nam, nanti kita daftar sekolah bareng yuk!" Esih, tetangga sebelah ribut banget mau sekolah bareng. Dia woro-woro tiga bulan sebelum daftar. Tiba-tiba anaknya udah masuk sekolah dua minggu dia diam aja. Huft, rasanya pengen banget nabok mukanya. Dua minggu sebelum daftar dia sempat pinjam beras ke rumah. Kok ya dia diam aja. Kontrakannya cuma beda satu pintu. Ini kisah ketiga.
Teman satu pabrik ketahuan ada affair. Satu pabrik ramai. Tiba-tiba salah satu tetangganya teman saya inbox ingin kepo tentang teman saya ini. Yang saya heran, teman saya ini baik banget sama tetangganya. Eh, kok tega ya tetangganya kepo urusan teman saya itu? Saya yang diinbox lewat fb sangat malas menanggapi keponya tetangga teman saya itu eh keponya nggak berjalan mulus di block pertemanan saya. Kisah terakhir.
Ternyata tetangga kok gitu itu nyata. Saya mesem sendiri. Lucunya yang berurusan dengan saya pasti berani hanya di belakang saya. Apalagi sifat saya yang terkadang luar biasa ceplas ceplos tanpa tedeng aling.
Saya manusia yang nggak bisa di depan baik di belakang menikam. Apalagi dulu saya belum berhijab. Saya tak pernah takut dengan siapapun. Selagi saya benar. Setelah dua tahun ini barometer pakaian saya lumayan tertutup. Saya lebih sabar menghadapi tetangga yang modelnya "Kok Gitu".
Tapi, saya kan tetap manusia biasa. Kadang lepas kontrol juga. Saya berusaha memahami orang lain. Meskipun, dia orang yang paling saya benci.
Terlepas dari semuanya. Saya pasrah saja sama Allah. Mungkin Allah menguji keimanan saya lewat "Tetangga Kok Gitu". Terus saja berprasangka baik. Insya Allah akan baik hasilnya. Tetap semangat... Yakin Allah Maha Baik. Tetangga sedikit yang baik itu lebih baik.
Senin, 01 Mei 2017
Tetangga Kok Gitu
Sabtu, 03 Januari 2015
Dunia oh dunia
Berada di dunia maya sangat mengasyikan. Tidak pernah ada kata bosan walau hanya wara wiri menelusuri si Google. Imajinasi liar seakan tidak pernah tidur. Lain halnya untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar.Amat sangat membosankan.
Bergunjing tak lagi lain adalah menjadi bahasan utama. Apalagi jika bertemu dengan salah dari mereka yang keponya sudah maksimal alias akut. Rasanya panas dunia ini. Topik bahasannya tidak jauh adalah perabot baru yang mereka miliki. Perabot hasil kredit rasanya tak lagi masalah untuk jadi ajang pamer. Salah satu dari mereka pun dengan rela meminjam uang bank untuk membeli perhiasan untuk menarik perhatian orang lain.
Beberapa tahun terakhir berusaha untuk menjauh dari sekitar. Pergi ke pabrik jika ingin atau lebih nyaman rasanya berada di dalam rumah. Menikmati secangkir kopi, menghabiskan buku bacaan yang ada, berkelana di dunia maya atau hanya sekedar menonton dvd drama korea.
Kekecewaan demi kekecewaan yang mendalam dengan tetangga sekitar. Membuat langkah demi langkah menjauh untuk kenyamanan diri sendiri. Media sosial sangat dekat dengan hidupku. Mungkin dikarenakan hobi menulis dan membacaku yang membuat aku nyaman berada di duniaku sendiri. Di media sosial aku bisa jadi diriku sendiri.
Lain halnya kehidupan di dunia nyata yang terlihat nyata tapi hoax. Di depan mereka terlihat menarik, baik hati di media sosial menghujat tapi tak punya nyali menghadapi orang yang dihujatnya.
Entahlah... Sepertinya duniaku tak lagi berada di sekitar. Say hello seperlunya. Ada yang bertamu diperlakukan dengan sangat baik. Tapi, jika untuk berkunjung ke tempat tetangga biasanya sudah ada tema pokok yang dibicarakan.
"Hidup cuma sekali jangan dipikir-pikir lagi. Lebih baik move on aja. On the way melupakannya." Begitulah kira-kira syair lagu dari NDX berjudul Move On yang membuatku asyik-asyik aja melalui hari-hari Tetangga Kok Gitu.
Selasa, 04 Maret 2014
SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi, Sekolah Nyaman di Hati Juga Di kantong
Di sekolah negeri mana pun memang gratis. Tapi, masih banyak guru yang membebani siswanya dengan uang ini dan itu.
Ada rasa percaya dan tidak percaya ketika salah satu tetangga menyarankan sekolah di SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Menurut si ibu, sekolah di sana nggak takut bayar ini dan itu. Gurunya juga toleran terhadap siswa dan siswinya.
Pada akhirnya saya menyekolahkan putra semata wayang saya di SDN Padurenan V, alhasil yang dikatakan si ibu tetangga saya itu benar adanya. Tak kurang dan tak lebih informasinya tentang sekolah ini. Pas.
Bapak dan ibu gurunya ramah. Tak pernah ada uang ini dan itu. Memang, banyak sekolah menjadi terdepan karena kedisiplinannya.
Tidak jarang saya melihat anak tetangga menangis urung untuk pergi ke sekolah karena belum bayar ini dan itu. Sedangkan orang tua sedang dilema keuangan keluarga. Dan saya sangat tidak menginginkan ini terjadi kepada anak saya.
Alhamdulillah, itu tidak terjadi kepada anak saya. Terkadang si ibu guru memberi saran untuk membeli sebuah buku. Tapi, bukan berarti wajib hari itu dibeli.
Sekolah di SDN Padurenan V, memang nyaman di hati para orang tua dan siswa itu sendiri. Terima kasih bapak dan ibu guru yang baik hati dalam membimbing siswa dan siswinya.
Rabu, 04 Desember 2013
Poligami
Menulis blog masih dalam meraba-raba tentang apa yang akan ditulis. Entah mengapa sisi keperempuananku berontak jika membaca atau terlintas kata poligami.
Aku tidak anti pada poligami. Tapi, lebih menghormati diriku sendiri sebagai perempuan. Aku punya alasan tersendiri untuk benci yang namanya poligami.
Aku pernah gagal dalam berumah tangga. Sebelum memutuskan berpisah dari pernikahan terdahulu aku menghendaki dan setuju dengan poligami.
Suamiku terdahulu memiliki wanita idaman lain. Untuk menyelamatkan rumah tangga kami aku mengusulkan tentang poligami. Pada dasarnya suami setuju. Apalagi mengingat ketika itu aku tengah mengandung.
Dasar perempuan keparat aku menyebutnya. Dia tak mau jadi maduku. Dia hanya mau jadi istri tunggsl. Sial! Ambil suami orang kok ya serakah! Sejak itu aku no poligami.
Jumat, 15 April 2011
Pengumuman
Kamis, 07 April 2011
Pangeran Sukowati
Jumat, 04 Maret 2011
Petikan Tanpa Jemari
Diary Ramadhanku
1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...
-
Satu minggu telah berlalu, tapi di hati masih saja terkenang tas cantik hasil karya Siswa Wirausaha PKBM Ginus Itaco. Ya... pada hari Minggu...
-
.Banyak peristiwa di tahun 2017 masih pekat dalam ingatan. Tak disangka tak pernah dikira dalam otak saya tiba-tiba jadi hobi bikin makanan....
-
Tak kenal maka tak sayang. Itulah kali satu kalimat untuk mengenal lebih dekat SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Banyak sekali hal rem...