Selasa, 27 Maret 2018

Katakan Tidak Pada Plagiat

Menurut kamus Bahasa Indonesia yang saya punya, plagiat adalah mengambil atau pengambilan karangan, pendapat dan sebagainya orang lain dan disiarkan sebagai atau pendapat dan sebagainya sendiri.



Lagi dan lagi terjadi lagi di dunia kepenulisan. Mana banyak banget lagi karya yang dia jiplak. Nggak kira-kira, sekitar 24 atau 26 tulisan, dia tulis ulang dan disulap sebagai karyanya.


Huhuhu... Yang baca aja pada ngomel, nyolot, gondok sama perbuatan si plagiat. Apalagi yang si empunya karya. Ya marah abislah.


Manusia diciptakan sama Allah sebagai makhluk sempurna. Memiliki akal. Belum bisa menulis atau membuat karya yang bagus ya janganlah menjiplak karya orang.


Mending jualan brownies irit kayak saya. Lumayan. Dari pada nungguin rekening penuh hasil plagiat. Janganlah...


Saya terjun ke dunia kepenulisan tahun 2010. Itu juga nggak niat. Awalnya hanya sekedar curhat di catatan Facebook pada masa itu.


Membaca novel adalah hobi saya. Kalo abis baca novel saya sampai terbawa mimpi. Karena itu tandanya saya menikmati karya tersebut dan cocok di hati.


Satu per satu saya baca novel dari penulis baru atau penulis terkenal. Berdecak kagum dengan karya-karya mereka. Tapi, tidak sedikit pun berniat menjiplak karya orang lain.


Menjadi pengangguran dan kerjanya cuma ke perpustakaan pernah saya tekuni. Kegilaan saya membaca membuat saya bersemangat ke perpustakaan di jalan Merdeka Selatan jalan kaki setiap hari. Dulu, saya tinggal di Cijantung. Bayangin aja, duit nggak punya barang sepeser pun. Tapi, semangat membaca mengalahkan segalanya.


Di media sosial saya bertemu banyak penulis. Ya Allah... Rasanya bahagia banget. Bisa dekat dengan penulis yang saya baca karyanya.


Saya tahu kalau menulis itu susah buat saya. Walau banyak bertebaran buku berjudul "Menulis itu Gampang."


Tetap aja buat saya, itu susah. Itu terbukti banyak tulisan saya nggak pernah di acc penerbit. Tapi, nggak ngerti kenapa ya? Saya tetap aja tuh nulis sampai sekarang dan nggak berniat sekali pun buat menjiplak karya orang lain menjadi karya saya.


Buat saya menulis itu butuh proses. Banyak jalan kok di dunia menulis. Nulis aja dulu di buku harian. Atau bikin status yang panjang. Ingat! Bikin status juga jangan copas. Apalagi dengan bahasa yang tinggi. Nanti giliran ada yang komen keder jawabnya.


Kalau memang udah rejeki. Biar tulisan kita biasa aja. Kata orang mah itu bagus.


Biar tulisan kita amburadul. Yang penting nanti si editornya kan paham, tulisan atau karya si anu layak baca atau tidak. Jadi, nggak usahlah menjadi plagiator.


Menulis itu butuh pengorbanan. Tanya dah tuh raja dangdut, H. Rhoma Irama kalo nggak percaya. Gimana caranya beliau bisa nulis itu lirik lagu pengorbanan. Pasti dah beliau mengerti sekali arti pengorbanan.


Nggak usahlah bergaya ikut lomba cerpen. Biar dikata karyanya layak untuk dibaca. Lalu menjiplak karya orang lain.  Tidak hanya perilaku yang butuh norma kesopanan. Menulis pun demikian. Bertindaklah sopan dengan tidak menjiplak karya orang lain.


Katakan tidak pada plagiat!!!


 

Minggu, 25 Maret 2018

Memutus Rantai Kemiskinan Dengan Pendidikan

Satu minggu telah berlalu, tapi di hati masih saja terkenang tas cantik hasil karya Siswa Wirausaha PKBM Ginus Itaco. Ya... pada hari Minggu, tepatnya tanggal 18 Maret 2018, Dear Blogger Net menyelenggarakan event perdananya, program DBN Charity Visit.

 

Charity yang diselenggarakan Dear Blogger Net untuk memberdayakan blogger melalui konten yang bermanfaat agar mengimbangi banyaknya berita hoax yang bertebaran di media sosial. Menurut mbak Haya Aliya Zaki, selaku salah satu founder Dear Blogger Net. "Konten positif membuat kita menjadi optimistis dan bersemangat untuk melakukan hal yang positif pula."
   
Saya sebagai blogger pemula sangat menyambut baik. Apalagi, sering kali saya terhasut berita hoax hasil share teman di media sosial. Dan tak jarang pula ikut share konten hoax tersebut. Duh... jadi malu hati mendengarkan penjelasan mbak Haya.

DBN Charity Visit juga mendapat dukungan dari loh dari C2live, Content Collision. C2live memiliki fasilitas yang mumpuni di bidang perbloggeran.



 

Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan di event blogger perdana saya. Saya baru tahu bahwa Bekasi memiliki sekolah gratis berfasilitas cukup lengkap. PKBM Ginus Itaco yang berada di Jalan Lapangan Tengah Bekasi Tengah no.3, kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. Selama enam tahun tinggal di Bantar Gebang, Bekasi, saya masih buta akan wilayah Bekasi dan sekitarnya.  

Di event ini, saya jadi paham, ternyata masih banyak anak-anak putus sekolah dikarenakan masalah ekonomi. Padahal wajib belajar 12 tahun telah dicanangkan pemerintah. Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh pemerintah pada tingkat global. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengupayakan wajib belajar 12 tahun. Tapi, kenyataannya masih banyak anak-anak dari keluarga miskin tidak dapat mengenyam pendidikannya dengan layak.

"Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, termasuk anak dari keluarga pra sejahtera. Berbekal pendidikan, mereka diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan keluaarga dan orang-orang di sekitarnya." Susi Sukaesih.
   

Susi Sukaesih mendirikan pendidikan non formal SMA Itaco di tahun 2012, sekarang menjadi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Ginus Itaco. Banyak kisah dari siswa-siswanya yang menjadi latar belakang berdirinya sekolah ini.

Fakta masih banyaknya siswa putus sekolah, terutama di Bekasi. PKBM Ginus Itaco dengan ijin no : 420.10/6236/Dik 33/Pk.020 membekali siswa-siswanya sesuai kurikulum yang berlaku plus ketrampilan khusus seperti programming, design grafis, menjahit, komputer MS Office, broadcasting dan juga kewirausahaan.

   

Seperti diketahui, program wajib belajar adalah salah satu program pemerintah. Namun, masih sebatas retorika. Adanya PKBM Ginus Itaco dengan biaya 100% gratis sangat membantu keluarga prasejahtera. Dimana kebanyakan para orangtua dari siswa-siswanya bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga, tukang ojek, supir angkot, buruh serabutan dan pekerja kasar lainnya.

Dibantu oleh donatur, orangtua asuh dan CSR perusahaan. PKBM Ginus Itaco juga dibantu beberapa pihak antara lain, Bank Mandiri, Laznazs BSM, Brother Indonesia, Grab dan 0LX. Dengan 20 siswa di tahun pertamanya, PKBM Ginus Itaco terus berkembang dengan prestasi dan kewirausahaannya. Berpindah-pindah tempat tidak menyurutkan semangat seorang Susi Sukaesih yang ingin sekali membantu anak-anak putus sekolah dari keluarga pra sejahtera untuk kembali ke bangku sekolah dan mengenyam pendidikan yang layak.

Lima kali berpindah-pindah tempat bukanlah perkara mudah. Namun, di tangan dinginnya, Susi Sukaesih, PKBM Ginus Itaco telah berhasil mendidik 40 siswanya.

Di bidang ketrampilan dan wirausahanya PKBM Ginus Itaco melalui wadah Siswa Wirausaha mengeluarkan beberapa produk:

1. Itaco (tas dan aksesoris premium).
2. Hade Bag (tas dan aksesoris harga lebih ekonomis.
3. Hade Kids (batik anak)
    - Hade Prelove : aksesoris berbahan pakaian bekas layak pakai
    - Famsignature : kaos katun combed, seperti kaos anak dan kaos ibu menyusui.

Hasil karya anak-anak wirausaha sungguh membuat saya berdecak kagum. Apalagi melihat tas-tas bercorak etnik yang membuat saya jatuh hati. Bukan hanya modelnya saja. Jahitannya yang rapi dan secara fisik yang awet dan tahan lama. 



 


Yakin deh nggak akan kecewa membeli hasil karya Siswa Wirausaha di PKBM Ginus Itaco. Foto dan aslinya plek ketiplek. Apalagi ini hasil karya anak negeri. Saya aja udah naksir dan yakin mau beli.

Nah, yang berminat bisa datang langsung ke alamat PKBM Ginus Itaco atau bisa memesan secara online. 


Senin, 12 Maret 2018

Sauh

Judul buku : Sauh
Pengarang  : Shabrina WS
Penerbit     : PT Elex Media Komputindo
Cetakan      : Pertama 2017
Tebal buku : 221 halaman
Harga         : Rp 54,000,00

Sauh

Bagaimana aku bisa berlabuh, pada hati yang bukan dermagaku?

Bagiku memberi harapan yang tak pasti kepadamu Sama seperti menaruh duri secara diam-diam, di hatiku, juga di hatimu.

Sengaja kusisakan jarak, karena aku butuh waktu mempersiapkan genggaman yang kuat untuk menggandengmu.

Kutanya kepada Tuhan di malam-malam panjang, apakah kita sepasang sayap yang diciptakan untuk mengepak bersama.

Namun, apa hakku menahanmu, jika ternyata kau dipertemukan dengan sayap yang lain.

Barangkali benar, kau dan aku sama-sama berjuang. Tetapi hanya Tuhan yang tahu, jalan yang kita tempuh... akan bersauh pada pertemuan atau perpisahan.

"Rosita, Danu, dan Firman bersisian dan bersilangan pada jalan takdir. Ketiganya meyakini bahwa setiap orang memperjuangkan cinta mereka dengan caranya sendiri. Tetapi, di musim yang lain, mereka didera pertanyaan.

Sejauh mana cinta harus diperjuangkan?"

Di prolog ditulis sebagian hidup kita adalah milik keluarga. Ya banget menurutku.

Setting tempatnya yang bagus dan indah membuat jatuh hati. Pacitan. Kota terkecil di Jawa Timur. "Serasa pulang kampung." kata suamiku. Ya iyalah... Lah wong suamiku asli Pacitan. Apalagi ada pondok Tremas tempatnya mondok dulu.

Rosita tipe perempuan Indonesia tempo dulu. Menunggu laki-laki menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Setia sampai dirinya sendiri dilamar masih setia menunggu seorang Danu.

Danu, laki-laki yang merasa bertanggung jawab akan keluarga. Ibu dan kedua adiknya menjadi tanggung jawabnya. Tapi, Danu bikin sebel. Aku sebel dengan tokoh ini. Membuat perempuan lama menunggu hehe...

Firman. Nah, ini dia tokoh laki-laki seharusnya. Bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya. Hatinya masih setia dengan kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi, ketika dijodohkan berusaha menerima.

Setelah membaca buku ini dengan waktu yang cukup panjang. Akhirnya tuntas juga. Maklum, waktu luangku saat ini hanya sedikit. Harus benar-benar berjuang untuk membacanya sampai tuntas.

Yang membuat aku menabung Rp 1000,00 setiap harinya selama 54 hari untuk membeli buku ini adalah penulisnya baik. Walau belum pernah bertemu di dunia nyata, sepertinya media sosial yang mempertemukan penulis dan pembaca setianya.

Terus berkarya ya mbak Eni :)

Diary Ramadhanku

1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...