Bekasi, 7 Februari 2015
Jumat, 30 November 2018
[Writing Challenge] Katakan Cinta Pada Keluarga
Bekasi, 7 Februari 2015
Sabtu, 24 November 2018
Guru Bagai Pelita Dalam Kegelapan
Terpujilah
Wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup
Dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir
Didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Terpujilah wahai ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
Sebagai prasasti terimakasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Selasa, 20 November 2018
SDN Padurenan V di Gelar Kreativitas Panca Lomba Pramuka
Senin, 04 Juni 2018
Kisah Indah Dari Padang Rumput
Judul buku : Kisah Indah Dari Padang Rumput
Pengarang : Shabrina WS
Penerbit : Bintang Kelas
Cetakan : Pertama 2018
Tebal buku : 160 halaman
Harga : Rp. 70.000,-
Ini adalah kisah-kisah indah dari padang rumput. Cerita tentang hewan-hewan yang berusaha mengatasi masalah-masalah mereka. Mengatasi ketakutan, mengatasi kegagalan, mengatasi rasa benci, mengatasi rasa curiga, perasaan kehilangan, dan kisah menarik lainnya. Kisah-kisah hewan yang mencari apa sesungguhnya masalah mereka dan putus asa dalam mencari jalan keluarnya. Kisah-kisah ini akan membawamu pada pikiran indah tentang keluarga, persahabatan, dan persaingan.
Selamat bertualang. Selamat berkenalan dengan Gazelle, Kiang, Vicuna, Meerkat, Wilddebeest, dan teman-temannya. Temukan kehangatan dan hikmah dari padang rumput yang indah. Semoga hikmah cerita yang ada bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan.
Setelah membaca buku Fabel Pembangun Karakter ini, saya merasa beruntung. Banyak banget kisah hewan yang dapat kita petik hikmahnya.
Dari lima belas kisah hewan yang ada, saya paling tertarik pada kisah Kapibara Dan Tepi SungaiYang sunyi. Mengingatkan saya pada kehidupan manusia yang sering berprasangka buruk. Biasanya hubungan antar tetangga nih! Padahal tidak tahu kebenarannya.
Tidak hanya itu, ternyata banyak sekali jenis hewan yang saya tidak tahu. Seperti Kiang, saya hanya tahu kerabat kuda itu keledai dan zebra.
Kumbang Kot juga salah satu hewan yang baru saya tahu tentang jenis kumbang yang memakan kotoran hewan lainnya. Yang saya tahu kumbang penghisap bunga.
Burung Peniru Dan Suaranya. Kisah ini cocok buat Pasha yang suka memotong pembicaraan umminya.
Nggak kaget sih kalo masalah nulis fabel sebagus ini. Karena mbak Shabrina WS bisa meraciknya dengan pas. Seperti lauk pauk lezat yang siap disantap. Tidak kekurangan satu pun.
Yang menarik lagi ada bonus sticker hewan-hewan lucunya. Sayang sekali nggak bisa difoto. Udah disiangin Namiera. Oh ya, di halaman belakang juga ada lembar aktivitas untuk diwarnai.
Sejak melihat penampakan buku ini ingin sekali segera membaca buku ini sesegera mungkin. Tapi, bacanya harus antri. Giliran pertama adalah Namiera. Karena menurut saya cocok banget buat dibaca Namiera. Karena Namiera sedang giat-giatnya membaca. Kalo Pasha mah nggak usah diragukan lagi soal baca. Mirip induknya hihihi...
Sebelum membaca, Namiera terlebih dahulu mewarnai lembar aktivitas. Nah, itu tuh yang paling bikin umminya nyanyi koplo. Kelamaanlah... Karena dia akan berimajinasi membayangkan warna yang cocok di lembar mewarnai itu.
Padahal kalo soal mewarnai Namiera suka aneh. Apalagi kalo nggak dipantau. Bikin yang lihat hasil mewarnainya gemes pengen nyubit. Lah wong, induknya paling nggak suka mewarnai.
Semoga setelah membaca Fabel Pembangun Karakter bisa jadi bahan renungan untuk anak-anak dan saya tentunya.
Minggu, 20 Mei 2018
Berhijab Tak Lagi Masalah
Selasa, 27 Maret 2018
Katakan Tidak Pada Plagiat
Menurut kamus Bahasa Indonesia yang saya punya, plagiat adalah mengambil atau pengambilan karangan, pendapat dan sebagainya orang lain dan disiarkan sebagai atau pendapat dan sebagainya sendiri.
Lagi dan lagi terjadi lagi di dunia kepenulisan. Mana banyak banget lagi karya yang dia jiplak. Nggak kira-kira, sekitar 24 atau 26 tulisan, dia tulis ulang dan disulap sebagai karyanya.
Huhuhu... Yang baca aja pada ngomel, nyolot, gondok sama perbuatan si plagiat. Apalagi yang si empunya karya. Ya marah abislah.
Manusia diciptakan sama Allah sebagai makhluk sempurna. Memiliki akal. Belum bisa menulis atau membuat karya yang bagus ya janganlah menjiplak karya orang.
Mending jualan brownies irit kayak saya. Lumayan. Dari pada nungguin rekening penuh hasil plagiat. Janganlah...
Saya terjun ke dunia kepenulisan tahun 2010. Itu juga nggak niat. Awalnya hanya sekedar curhat di catatan Facebook pada masa itu.
Membaca novel adalah hobi saya. Kalo abis baca novel saya sampai terbawa mimpi. Karena itu tandanya saya menikmati karya tersebut dan cocok di hati.
Satu per satu saya baca novel dari penulis baru atau penulis terkenal. Berdecak kagum dengan karya-karya mereka. Tapi, tidak sedikit pun berniat menjiplak karya orang lain.
Menjadi pengangguran dan kerjanya cuma ke perpustakaan pernah saya tekuni. Kegilaan saya membaca membuat saya bersemangat ke perpustakaan di jalan Merdeka Selatan jalan kaki setiap hari. Dulu, saya tinggal di Cijantung. Bayangin aja, duit nggak punya barang sepeser pun. Tapi, semangat membaca mengalahkan segalanya.
Di media sosial saya bertemu banyak penulis. Ya Allah... Rasanya bahagia banget. Bisa dekat dengan penulis yang saya baca karyanya.
Saya tahu kalau menulis itu susah buat saya. Walau banyak bertebaran buku berjudul "Menulis itu Gampang."
Tetap aja buat saya, itu susah. Itu terbukti banyak tulisan saya nggak pernah di acc penerbit. Tapi, nggak ngerti kenapa ya? Saya tetap aja tuh nulis sampai sekarang dan nggak berniat sekali pun buat menjiplak karya orang lain menjadi karya saya.
Buat saya menulis itu butuh proses. Banyak jalan kok di dunia menulis. Nulis aja dulu di buku harian. Atau bikin status yang panjang. Ingat! Bikin status juga jangan copas. Apalagi dengan bahasa yang tinggi. Nanti giliran ada yang komen keder jawabnya.
Kalau memang udah rejeki. Biar tulisan kita biasa aja. Kata orang mah itu bagus.
Biar tulisan kita amburadul. Yang penting nanti si editornya kan paham, tulisan atau karya si anu layak baca atau tidak. Jadi, nggak usahlah menjadi plagiator.
Menulis itu butuh pengorbanan. Tanya dah tuh raja dangdut, H. Rhoma Irama kalo nggak percaya. Gimana caranya beliau bisa nulis itu lirik lagu pengorbanan. Pasti dah beliau mengerti sekali arti pengorbanan.
Nggak usahlah bergaya ikut lomba cerpen. Biar dikata karyanya layak untuk dibaca. Lalu menjiplak karya orang lain. Tidak hanya perilaku yang butuh norma kesopanan. Menulis pun demikian. Bertindaklah sopan dengan tidak menjiplak karya orang lain.
Katakan tidak pada plagiat!!!
Minggu, 25 Maret 2018
Memutus Rantai Kemiskinan Dengan Pendidikan
Senin, 12 Maret 2018
Sauh
Judul buku : Sauh
Pengarang : Shabrina WS
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama 2017
Tebal buku : 221 halaman
Harga : Rp 54,000,00
Sauh
Bagaimana aku bisa berlabuh, pada hati yang bukan dermagaku?
Bagiku memberi harapan yang tak pasti kepadamu Sama seperti menaruh duri secara diam-diam, di hatiku, juga di hatimu.
Sengaja kusisakan jarak, karena aku butuh waktu mempersiapkan genggaman yang kuat untuk menggandengmu.
Kutanya kepada Tuhan di malam-malam panjang, apakah kita sepasang sayap yang diciptakan untuk mengepak bersama.
Namun, apa hakku menahanmu, jika ternyata kau dipertemukan dengan sayap yang lain.
Barangkali benar, kau dan aku sama-sama berjuang. Tetapi hanya Tuhan yang tahu, jalan yang kita tempuh... akan bersauh pada pertemuan atau perpisahan.
"Rosita, Danu, dan Firman bersisian dan bersilangan pada jalan takdir. Ketiganya meyakini bahwa setiap orang memperjuangkan cinta mereka dengan caranya sendiri. Tetapi, di musim yang lain, mereka didera pertanyaan.
Sejauh mana cinta harus diperjuangkan?"
Di prolog ditulis sebagian hidup kita adalah milik keluarga. Ya banget menurutku.
Setting tempatnya yang bagus dan indah membuat jatuh hati. Pacitan. Kota terkecil di Jawa Timur. "Serasa pulang kampung." kata suamiku. Ya iyalah... Lah wong suamiku asli Pacitan. Apalagi ada pondok Tremas tempatnya mondok dulu.
Rosita tipe perempuan Indonesia tempo dulu. Menunggu laki-laki menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Setia sampai dirinya sendiri dilamar masih setia menunggu seorang Danu.
Danu, laki-laki yang merasa bertanggung jawab akan keluarga. Ibu dan kedua adiknya menjadi tanggung jawabnya. Tapi, Danu bikin sebel. Aku sebel dengan tokoh ini. Membuat perempuan lama menunggu hehe...
Firman. Nah, ini dia tokoh laki-laki seharusnya. Bisa menempatkan diri dimana pun tempatnya. Hatinya masih setia dengan kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya. Tapi, ketika dijodohkan berusaha menerima.
Setelah membaca buku ini dengan waktu yang cukup panjang. Akhirnya tuntas juga. Maklum, waktu luangku saat ini hanya sedikit. Harus benar-benar berjuang untuk membacanya sampai tuntas.
Yang membuat aku menabung Rp 1000,00 setiap harinya selama 54 hari untuk membeli buku ini adalah penulisnya baik. Walau belum pernah bertemu di dunia nyata, sepertinya media sosial yang mempertemukan penulis dan pembaca setianya.
Terus berkarya ya mbak Eni :)
Selasa, 06 Februari 2018
Hewan Bukan Mainan
Judul buku : Hewan Bukan Mainan
Pengarang : Ratna DKS
Penerbit : Kompas Gramedia
Cetakan : Pertama 2018
Tebal buku: 84 halaman
Harga. : Rp. 48.000-.
Oh, senangnya punya hewan peliharaan!
Bisa diajak bermain, bisa menemani saat sendiri, bisa juga diajak mengobrol!
Eh, kalau yang terakhir itu, mereka mungkin hanya mendengarkan kita saja sambil mengangguk-angguk, ha ha ha!
Namun, apakah kita tahu bagaimana perasaan mereka?
Dan apakah kita sudah memelihara mereka dengan benar?
Ayo, ikuti kisah Rizky dan Rara, kakak beradik penyayang hewan, dan bertemu berbagai macam hewan peliharaan!
Dalam kumpulan kisah kakak beradik Rizky dan Rara penyayang hewan. Sebelas cerita hewan yang dikemas apik oleh seorang ibu beranak dua ini biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan Namiera adalah membeli klomang atau keong yang dicat warna warni di pasar atau di depan sekolah SDN Padurenan V, tempat kakaknya sekolah.
Biasanya klomang dijual sepaket dengan rumah-rumahan yang terbuat dari karet sejenis yang biasanya digunakan untuk karpet atau sandal.
Namiera, anak saya sangat bersemangat membaca kisah dalam buku ini. Karena saya hanya mengijinkannya membaca satu hari hanya satu cerita. Namiera anteng kalo sudah membaca. Walaupun masih banyak kata yang belum dipahaminya.
Sekarang Namiera mulai mengerti bahwa memelihara hewan itu nggak mudah seperti imajinasi miliknya.
Tidak lagi gemes jikalau melihat kucing kampung yang lalu lalang lewat atau sekedar mampir untuk beristirahat di teras rumah kita.
Saya baru baca dua kisah dari sebelas kisah menarik lainnya. Maklum bacanya berebutan he he he! Buku ini bagus untuk anak-anak yang hobi beli hewan untuk mainan sepulang sekolah. Agar anak-anak paham bahwa hewan juga makhluk yang ingin hidup bebas di habitatnya.
Minggu, 14 Januari 2018
Oppo A57 alias CPH 1701 Black
Siapa sih yang nggak ingin punya ponsel kekinian? Ponsel yang terus bermunculan akan membuat kita dilanda kebimbangan saat ingin membeli sebuah ponsel paling up to date.
Bulan Juli yang ceria menurut bayangan saya ternyata benar. Suami menawarkan untuk membeli ponsel baru. Bahagia banget rasanya hati ini. Maklum saat ini memiliki ponsel baru hanya mimpi di siang bolong.
Pilah pilih jatuh cinta pada Oppo A57. Karena ketika survey merk ponsel yang ok buat foto menurut saya adalah Oppo. Yang paling utama bikin jatuh cinta sama Oppo A57 adalah fisiknya yang kuat. Kuat dalam artian pas digetok-getok sama si mas Sales Promotion ponselnya masih baik-baik aja.
Warna pilihan sebenarnya sama gold tapi kok pas si mas Sales Promotionnya nawarin warna black saya malah pilih yang black ya hehehe... Biar nggak cepat kotor. Maklum, saya termasuk ibu-ibu dengan aktifitas tinggi. Apalagi saya bekerja di pabrik gula merah yang berwarna coklat dan lengket. Jadi, menurut saya pilihan warna black lebih cocok dari gold.
Dengan specification : 149.1x72.9x65(mm) and about 147g (with battery). Memiliki Camera depan 16 MP dan Camera belakang 13 MP secara otomatis hasil jepretannya seperti pemakaian camera profesional.
Untuk layar 5,2 inchi dengan balutan corning gorrila glass 4. Ram 3G dan internal memori 32 GB. Dilengkapi finger print 0,2 detik dan dapat ditambah microSD hingga 256GB dan juga support OTG dengan prosesor octa core dengan kecepatan 1,4Ghz. Baterai Oppo A57 didukung 2900MAH Li-PO.
Enam bulan berjalan menggunakan Oppo A57 saya jadi mulai mengerti kekurangan dan kelebihannya. Pernah suatu kali si Oppo A57 tidak membaca simcard. Tepatnya di sim card 1. Saya sampai keluar keringat dingin dibuatnya. Karena ketika membeli saya harus mengeluarkan kocek sebesar IDR 2.799.000. Nggak kebayang kalo sampai rusak parah.
Di tengah kebingungan saya hanya coba otak atik ponsel tersebut. Diganti sim card lain sih tidak masalah. Ternyata si sim card yang bermasalah.
Menurut saya Oppo A57 termasuk salah satu ponsel smart jaman now yang dicari. Apalagi ditunjang dengan fitur yang sangat mumpuni. Sangat berguna untuk saya yang mulai menekuni dunia blogger. Cocok untuk selfie dan keperluan foto.
Tulisan ini adalah tugas menulis di kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam
Sabtu, 13 Januari 2018
Mewujudkan Impian Anak
Setiap insan memiliki cita-cita. Entah cita-cita yang hanya sekedar mimpi. Setiap anak biasanya memiliki begitu banyak cita-cita. Seperti kedua anak saya. Yang paling banyak cita-citanya adalah si bungsu Namiera.
Cita-cita pertama Namiera adalah menjadi dokter. Sebagai orang tua kami hanya bisa mengaminkan saja. Lalu cita-citanya berubah ingin menjadi polisi. Saya dan suami hanya bisa berdoa semoga cita-cita si bungsu terwujud. Tapi, alangkah kagetnya ketika cita-citanya berubah menjadi penyanyi dangdut. Kali ini kami sekeluarga mesem saja tak memberi tanggapan. Dan membuat Namiera cemberut.
Impian Pasha dari kecil memang tak pernah berubah. Ingin sekali menjadi seorang guru sampai sekarang duduk di kelas 5. Saya dan suami bangga dengannya yang selalu berprestasi di sekolah.
Pada suatu hari, Pasha bilang, "Mi, sekolahku ada di Youtube loh! SDN Padurenan 5 Kita Bisa."
Dengan durasi 5.37 menit saya jadi mengerti apa cita-cita Pasha saat ini.
"Cita-cita saya ingin menjadi ahli sejarah. Karena ingin memberitahu semua orang tentang sejarah Indonesia dan negara-negara lainnya."
Sungguh hati ini sangat terharu. Tak terasa buliran air mata mengalir. Apalagi jika mengingat masa lalu. Sejak dalam kandungan empat bulan Pasha tak memiliki sosok ayah dalam hidupnya. Sampai akhirnya saya kembali menikah dengan pertimbangan masa depannya.
Alhamdulillah... Sosok pengganti ayahnya. Memiliki rasa sayang dan tanggung jawab yang besar untuk menjadikan Pasha anak-anak pada umumnya. Yang memiliki rasa kasih sayang lengkap dari kedua orang tua.
Kami bukanlah sosok orang tua yang sempurna. Dari sisi ekonomi kami masih sering kekurangan. Namun tanggung jawab kami untuk mendidik anak-anak kami ada di pundak kami.
Bekerja di pabrik gula merah dengan upah borongan kami tekuni setiap hari. Kami berusaha memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan anak-anak kami. Tak peduli seberapa lelahnya kami.
Di kala pabrik kami tak ada aktifitas. Saya berjualan brownies rumahan. Dan suami menjadi kuli panggul gula pasir. Satu kali panggul beban dibahunya ada 50 kg gula pasir. Hanya dengan upah sekitar 15 sampai 17 ribu rupiah satu truk besar atau tronton.
Tak ada istilah menyerah atau mengeluh untuk mewujudkan impian anak-anak kami. Nilai dan prestasi anak-anak kami di sekolah seolah sebagai penyejuk saat kami sedang mandi peluh mengais pundi-pundi rupiah.
Tetap semangat 😊
Tulisan ini adalah tugas menulis di Kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam.
Kamis, 04 Januari 2018
Brownies Membawa Berkah
Di tengah kebingungan saat dompet tak lagi berpenghuni. Sebagai seorang istri dan juga ibu, saya memutar otak bagaimana saya menambah pendapatan rumah tangga di kala pabrik tempat saya dan suami bernaung sedang sepi. Gundah gulana meraja. Istilah jaman nownya galau hehe...
Tak pernah menyangka hobi sehari-hari saya membuat kue. Menjadi ide anak laki-laki saya untuk menambah pundi-pundi rupiah. Reza merayu saya untuk membuat kue yang akan dijualnya di sekolah.
Awalnya saya ragu-ragu untuk mengabulkan permintaan anak lanang. Tapi, si bapak sangat mendukung ide tersebut. Dengan penuh pertimbangan akhirnya saya menyetujui idenya.
Dengan modal sangat terbatas saya berusaha untuk bangkit dengan berusaha dan tak melangitkan doa-doa meminta keridhoanNya. TanpaNya saya tetaplah bukan apa-apa.
Alhamdulillah saya masih menyimpan bahan-bahan kue untuk memulai usaha kecil ini. Resep yang selalu saya modifikasi sedemikian rupa setiap hari membuat saya percaya diri untuk memulai dari nol.
Tak ada kata terlambat untuk terus berusaha. Dengan adonan porsi kecil saya membuat brownies. Satu kali kukus ada 8 pcs brownies mawar. Itu pun dengan panci kukusan atau langseng pinjaman teman satu pabrik.
Masih dengan semangat yang tersimpan untuk memenuhi kewajiban sebagai orangtua. Demi kelangsungan hidup sekeluarga. Berjibaku pagi buta. Karena pabrik dijadwalkan masuk kembali hari ini.
Rasanya tak tega melihat suami yang rela bongkar muatan gula pasir berton-ton hanya dengan upah 150 ribu yang biasanya akan dibagi 8 atau 10 orang.
Saya tak ingin terbuai lagi dengan kondisi pabrik yang tak menentu. Biarlah saya akan memulai usaha kecil ini.
Ide cemerlang anak lanang dengan berangkat sekolah hanya membawa 8 pcs brownies mawar tidak sia-sia. Semuanya laris manis.
Pulang sekolah setengah berlari dengan rasa bahagia yang membuncah tiba di depan pintu dengan tidak lupa mengucapkan salam Reza berkata, "Ummi... Laris. Besok ada pesanan 20 pcs."
Hanya mampu bilang, "Alhamdulillah."
Terima kasih teman-teman atas dukungannya selama ini. Tanpa doa kalian saya tak akan bisa sekuat ini.
Karena masih ada list pesanan di hari berikutnya. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... 🙏
Diary Ramadhanku
1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...
-
Tak kenal maka tak sayang. Itulah kali satu kalimat untuk mengenal lebih dekat SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Banyak sekali hal rem...
-
Di tengah kebingungan saat dompet tak lagi berpenghuni. Sebagai seorang istri dan juga ibu, saya memutar otak bagaimana saya menambah pendap...
-
1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...















