Selamat pagi Indonesiaku!
Menulis blog masih dalam meraba-raba tentang apa yang akan ditulis. Entah mengapa sisi keperempuananku berontak jika membaca atau terlintas kata poligami.
Aku tidak anti pada poligami. Tapi, lebih menghormati diriku sendiri sebagai perempuan. Aku punya alasan tersendiri untuk benci yang namanya poligami.
Aku pernah gagal dalam berumah tangga. Sebelum memutuskan berpisah dari pernikahan terdahulu aku menghendaki dan setuju dengan poligami.
Suamiku terdahulu memiliki wanita idaman lain. Untuk menyelamatkan rumah tangga kami aku mengusulkan tentang poligami. Pada dasarnya suami setuju. Apalagi mengingat ketika itu aku tengah mengandung.
Dasar perempuan keparat aku menyebutnya. Dia tak mau jadi maduku. Dia hanya mau jadi istri tunggsl. Sial! Ambil suami orang kok ya serakah! Sejak itu aku no poligami.
Langganan:
Komentar (Atom)
Diary Ramadhanku
1 Ramadhan 1441 H Setelah shalat magrib Namiera mematut dirinya di depan cermin dan berjalan lenggak lenggok bak peragawati. Dia...
-
Tak kenal maka tak sayang. Itulah kali satu kalimat untuk mengenal lebih dekat SDN Padurenan V, Mustika Jaya, Bekasi. Banyak sekali hal rem...
-
Satu minggu telah berlalu, tapi di hati masih saja terkenang tas cantik hasil karya Siswa Wirausaha PKBM Ginus Itaco. Ya... pada hari Minggu...
-
Berada di dunia maya sangat mengasyikan. Tidak pernah ada kata bosan walau hanya wara wiri menelusuri si Google. Imajinasi liar seakan t...